10 Cara Manusia Menghancurkan Lingkungan dan Kehidupan di Bumi

ilustrasi planet bumi hancur terbakar separuhnya akibat ulah manusia


raSains.com - Tidak ada makhluk hidup di planet ini yang memiliki daya merusak lingkungan sedahsyat manusia. Bayangkan, hanya dalam dua abad, aktivitas manusia mampu mempunahkan lebih banyak makhluk hidup dibanding kepunahan alami yang berlangsung selama jutaan tahun.

Kehancuran ini bakal bertambah parah seiring berjalannya waktu. Apalagi aktivitas manusia terbukti berkontribusi atas semua kerusakan tersebut. Jika tidak segera diatasi, bukan hal yang mustahil jika manusia bakal terkena dampaknya juga.

Setidaknya ada sepuluh cara manusia berkontribusi dalam menghancurkan lingkungan yang harus kamu ketahui.

1. Overpopulasi

Pertumbuhan populasi umat manusia yang makin tinggi adalah masalah yang mengkhawatirkan. Apalagi perkembangan teknologi medis berhasil menekan rasio kematian lebih kecil dibanding ratusan tahun silam. Membuat jumlah manusia di muka Bumi makin melesat.

Dalam jangka panjang, overpopulasi bakal mengakibatkan turunnya daya dukung lingkungan. Pasalnya manusia membutuhkan ruang yang cukup luas untuk menopang kehidupannya. Ruang ini digunakan untuk membangun rumah, pabrik, perkebunan, hingga perkantoran.

Banyaknya jumlah manusia berbanding lurus dengan makin luasnya ruang yang dibutuhkan. Maka akan lebih banyak pohon yang ditebang dan hutan yang dialihfungsikan. Berkurangnya pohon bakal mengakibatkan kadar karbondioksida (CO2) di atmosfer meningkat yang berdampak pada peningkatan pemanasan global.

Selain ruang, permintaan akan energi juga bakal naik. Masalah ini bakal kian pelik. Pasalnya mayoritas sumber energi berasal dari bahan bakar fosil. Di mana proses penambangan hingga pengolahannya berdampak bagi lingkungan sekitar.

2. Polusi atau pencemaran lingkungan

Polusi udara yang dikeluarkan pabrik dalam bentuk asap putih yang tebal.
Sumber gambar: Pixabay

Lihat di sekliling kamu. Kamu pasti bisa menemukan polusi di mana-mana. Dari sampah plastik yang dibuang sembarangan, limbah rumah tangga, hingga polusi kendaraan bermotor. Semuanya adalah hasil dari aktivitas manusia sehari-hari.

Dikutip dari Guardian, ada 2,4 miliar orang yang kesulitan mengakses sanitasi yang baik dan 663 juta orang yang masih meminum air yang terkontaminasi. Mayoritasnya berada di negara Asia, Sub Afrika, Amrika Latin, dan Karibia. Pencemaran air akibat ulah manusia bakal membuat keadaan ini makin buruk di masa depan.

Negara maju seperti Amerika Serikat juga tidak lepas dari pencemaran. Udara di negeri Paman Sam pernah berada pada keadaan yang sangat kritis. Pada tahun 1950’an, Kota Los Angeles pernah ditutupi asap dan ozon permukaan tanah pada saat itu tercatat melebihi 500 bagian perjuta volume (ppbv). Jumlah ini melebihi standar kualitas udara yang ditetapkan hari ini, yakni sebesar 75 ppbv.

Buruknya kualitas udara dapat berdampak buruk bagi kesehatan orang yang tinggal di sana. Sesak nafas, kanker paru-paru, bronkitis adalah contoh kecil dari penyakit yang timbul akibat pencemaran udara.

3. Organisme yang dimodifikasi secara genetika (GMOs)

Menurut WHO genetically modified organisms (GMOs) adalah organisme yang DNA-nya telah diubah dengan cara tidak alami. Misalnya tanaman yang tahan serangga dan kebal virus. Di sisi satu, GMOs menguntungkan bagi manusia, namun di sisi lain menimbulkan dampak negatif yang signifikan.

Efek buruk yang pertama yaitu seputar toksisitas pada GMO dimungkinkan beracun bagi organisme non target, seperti kupu-kupu dan lebah. Padahal serangga-serangga tersebut berperan penting dalam penyerbukan tanaman di alam.

Masalah yang kedua adalah efek jangka panjang dari organisme yang dimodifikasi genetikanya. Pasalnya hama yang ditargetkan dapat kebal pestisida dan herbisida. Dalam laporan terbaru, 249 spesies rumput kebal terhadap herbisida yang banyak beredar di pasaran.

Efek yang terakhir yaitu dampak ekologis yang disebabkan perubahan genetik kecil pada tanaman. Tanaman yang genetiknya diubah bisa menjadi invasif dalam ekosistem alami, sehingga mengancam kelangsungan keanekaragaman hayati yang ada.

4. Pemanasan global

Pemanasan global atau global warming merupakan fenomena meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan. Fenomena ini disebabkan naiknya kadar gas CO2 dalam atmosfer akibat aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil dan deforestasi

Berdasarkan data yang dimuat di situs NASA, diketahui bahwa kadar CO2 tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah hanya sebesar 300 bagian perjuta. Namun sejak tahun 1950, rekor ini berhasil dilampaui, dan kini kadar gas CO2 di Bumi telah mencapai 400 bagian perjuta.

Jika peningkatan CO2 ini terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2100 suhu global bakal meningkat 1.1 hingga 6.4 Celsius. Angka ini didapatkan dari model iklim yang dijadikan acuan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Peningkatan suhu global ini berdampak pada perubahan lingkungan di planet ini. Mulai dari mencairnya gletser di belahan utara Bumi, naiknya permukaan air laut, hingga gangguan ekologis. Semua perubahan ini  bakal mempengarui kehidupan seluruh makhluk hidup yang ada di Bumi tanpa terkecuali.

5. Perubahan iklim

Tanah yang kering kerontang akibat perubahan iklim
Sumber gambar: Pexels

Perubahan iklim adalah salah satu efek dari meningkatnya suhu global. Dunia di masa depan bakal mengalami perubahan iklim secara besar-besaran. Di mana beberapa tempat akan mengalami musim tanam berkepanjangan, dan lainnya bakal mengalami kekeringan parah hingga mengubah wilayah tersebut menjadi gurun pasir.

Sementara cuaca juga bakal ikut kacau. Akan ada lebih banyak hari-hari panas dibanding hari-hari dingin, terjangan gelombang panas yang lebih panjang dan intesn, perubahan pola curah hujan, hingga badai yang lebih besar dan dahsyat.

Peristiwa ini bakal berdampak sistemik, tidak hanya bagi kehidupan manusia tapi juga ekosistem di penjuru planet ini. Binatang dan tumbuhan yang tidak bisa beradaptasi terancam kelangsungan hidupnya.

6. Peningkatan keasaman air laut

Peningkatan keasaman air laut adalah fenomena turunnya kadar pH di laut secara berkelanjutan. Kerusakan lingkungan ini diakibatkan karena penyerapan karbondioksida dari atmosfer. Di mana 30 persen sampai 40 persen CO2 yang dihasilkan manusia diserap laut, sungai, dan danau.

Sejumlah dampak negatif dari turunnya pH di laut yaitu penurunan metabolisme dan imun sejumlah organisme laut, serta pemutihan terumbu karang. Rusaknya terumbu karang bakal berimbas kepada ekosistem di laut. Pasalnya terumbu karang adalah rumah bagi banyak biota laut. Dengan kata lain, kerusakan terumbu karang menandai rusaknya rantai makanan di laut.

7. Penipisan lapisan ozon

Foto keadaan lubang ozon di atas Antartika

Menipisnya lapisan ozon adalah ancaman terbesar bagi seluruh makhluk hidup di Bumi. Pasalnya lapisan ozon adalah satu-satunya pelindung kita dari sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Tanpanya Bumi bakal menjadi planet yang gersang dan tidak layak huni.

Fenomena ini lagi-lagi disebabkan oleh aktivitas manusia, tepatnya karena penggunaan ozone depleting substances (ODS). Substansi ODS terdiri atas CFC, halon, karbon tetraklorida dan trikloroetana yang biasa digunakan pada peralatan sehari-hari, seperti freon AC dan aerosol.

Untungnya negara-negara di dunia langsung mengambil tindakan setelah munculnya laporan penemuan lubang ozon di Antartika. Setelah berembuk, disepakatilah Protokol Montreal yang isinya melarang penggunaan substansi perusak ozon.

Berdasarkan laporan para ilmuwan pada tahun 2016 silam, lubang ozon di atas Kutub Utara mulai ‘sembuh’. Tidak separah tahun 1985. Ini adalah tanda bahwa keputusan pelarangan CFC adalah pilihan bijak yang diambil oleh para pemimpin dunia.

8. Pencemaran air

Sampah plastik berperan penting dalam kerusakan lingkungan di laut. Dikutip dari National Geographic, setiap tahun ada 8 juta ton sampah plastik yang dibuang ke laut. Jumlah ini diperkirakan meningkat sepuluh kali lipat, seandainya dunia tidak berhasil menemukan solusi mengatasi sampah plastik.

Pencemaran sampah plastik sudah mulai menimbulkan dampak, salah satunya yaitu banyaknya hewan yang makan plastik di laut. Penyebabnya karena sampah plastik berbau seperti makanan. Sehingga banyak hewan yang salah mengiranya.

Misalnya saja yang dialami burung laut. Makanan pokok hewan ini adalah krill, sejenis krustasea yang mengonsumsi ganggang. Burung laut memanfaatkan bau dimethyl sulfide (DMS) yang dipancarkan ganggang yang mati secara alami untuk menemukan krill.

Ternyata sampah plastik yang mengambang merupakan media yang tepat bagi ganggang untuk berkembang biak. Saat ganggang mati dan memancarkan bau DMS, burung laut akan mengira sampah plastik tersebut sebagai krill.

9. Hujan asam

Bencana ini muncul akibat aktivitas pembakaran batu bara. Ketika batu bara dibakar, sulfur dioksida dan nitrogen oksida akan dilepaskan. Keduanya lalu berdifusi ke atmosfir lalu menciptakan asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut dalam air.

Keberadaan kedua zat ini membuat tingkat keasaman hujan yang turun memiliki kadar pH yang sangat rendah. Di bawah 5,6, jauh lebih sedikit dibanding kadar pH hujan biasa yang sedikit di bawah 6.

Genangan hujan asam akan mengikis kesuburan tanah. Sementara tumbuhan yang menghisapnya akan layu dan mati. Ketika air ini mengalir ke sungai, ikan-ikan yang hidup di sana juga turut mati. Efek ini akan terus berlanjut hingga lingkungan rusak dan organisme yang ada mati.

10. Deforestasi

foto penggundulan hutan yang terjadi di Amerika Latin akibat pembalakan liar
Sumber gambar: Wikipedia

Deforetasi adalah peralihan kawasan hutan untuk penggunaan nir hutan. Biasanya dijadikan sebagai lahan pertanian, perkebunan, dan pemukiman. Aktivitas deforestasi merupakan imbas dari bertambahnya populasi manusia di dunia.

Naiknya populasi berarti meningkatnya kebutuhan akan makanan, tempat tinggal, dan komoditas penting penunjang kehidupan. Berdasarkan data World Wildlife Fund , 18 juta hektar hutan habis ditebangi setiap tahunnya.

Berkurangnya pohon di dunia adalah kabar buruk. Seperti yang kita tahu, pohon menyerap karbondioksida dan mengolahnya menjadi oksigen. Jumlah pohon yang makin sedikit berbanding lurus dengan meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer sebagai biang kerok global warming. Gundulnya hutan juga memicu berbagai bencana alam, seperti banjir, kekeringan dan tanah longsor.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar planet bumi dan alam semesta atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Pixabay

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »