Warna-warni Sejarah Perkembangan Lipstik

Lipstik berwarna-warni yang biasa dipakai gadis remaja

raSains.com - Sejarah lipstik dipenuhi berbagai warna. Sama seperti warna-warni alat kosmetik tersebut. Pernah dianggap sebagai penanda kelas sosial, simbol seksualitas, hingga diharamkan karena dianggap sebagai pengejawantahan setan.

Bahan pembuatnya juga bolak-balik berubah. Mulai dari bunga, serangga, hingga logam berat. Namun pesona lipstik tidak pernah pudar sedikitpun. Para wanita tetap menyukainya dan memakainya sampai saat ini. Dari masa ke masa, beginilah sejarah perkembangan lipstik yang penuh warna.

Lipstik dan peradaban kuno


Siapakah penemu lipstik pertama di dunia? Sejumlah sejarawan percaya lipstik pertama kali dibuat di Sumeria Kuno. Orang-orang Sumeria menghancurkan batu permata untuk merias bibir dan daerah sekitar mata.

Sedangkan orang pertama yang menggunakan lipstik berwarna adalah Ratu Schub-ad dari Ur, sekitar 3.500 tahun sebelum masehi. Berdasarkan artikel Reading Our Lips: The History of Lipstick Regulation in Western Seats of Power yang dipublikasikan Harvard, Ratu Sumeria ini memanfaatkan timah dan batu merah yang dihaluskan sebagai bahan dasar pembuat lipstik.

Penggalian yang dilakukan arkeolog Inggris, Sir Leonard Woolley, berhasil menemukan lipstik pewarna bibir yang tersimpan dalam cangkang kerang di makam orang-orang Sumeria Kuno yang memiliki kemampuan membuat lipstik.

Dari Sumeria, budaya penggunaan lipstik menyebar ke Mesir Kuno yang saat itu tengah berkembang. Lipstik tidak hanya dipakai wanita, namun juga pria. Hal ini dikarenakanan riasan memainkan peran sebagai simbol kelas sosial dalam peradaban Mesir Kuno.

Gambar peti mati firaun yang merupakan peninggalan mesir kuno
Credit: Tjflex2

Bagian wajah yang jadi perhatian yaitu bibir dan daerah mata. Untuk merias mata, orang Mesir memanfaatkan perunggu dan pigmen tembaga karbonat untuk mendapatkan warna hijau, dan gelana yang mengandung timbal untuk menghasilkan warna hitam.

Sedangkan bahan pembuat lipstiknya jauh bervariasi. Misalnya saja Cleopatra yang menggunakan serangga hingga tanaman bunga sebagai bahan bakunya.

"Dia (atau budaknya) diduga menciptakan lipstik dari bunga, oker merah, sisik ikan, semut yang dihancurkan dan carmine," kata Rachel Weingarten, sejarawan kecantikan dan penulis buku Hello Gorgeous! Beauty Products in America '40s-'60s, seperti dikutip dari Bustle.

Menariknya, lipstik sebagai representasi kelas atas tidak berlaku di Yunani Kuno. Alih-alih sebagai tanda aristokrat, lipstik malah identik dengan pelacuran. Para pelacur di masa itu menggunakan pewarna merah, anggur, keringat domba, air liur, hingga kotoran buaya untuk mewarnai bibir mereka.

Setiap pelacur juga diwajibkan untuk memakai lipstik merah di muka umum. Pemakaian ini bahkan diatur oleh hukum. Di mana pelacur yang muncul di publik pada jam-jam yang salah tanpa lipstik atau make up dapat dijatuhi hukuman. Aturan ini juga menandai hubungan lipstik merah dengan prostitusi yang pertama tercatat dalam sejarah.

Status lipstik baru membaik di era Romawi Kuno. Sama seperti Mesir Kuno, orang-orang elit Romawi menggunakan lipstik untuk menunjukan status sosial mereka, bukan gender. Meski begitu, konsumen lipstik terbesar masih dipegang oleh kaum hawa.

Permaisuri Poppaea Sabina, sang istri gila Kaisar Gila Nero, bahkan mempekerjakan seratus petugas untuk memastikan bibirnya merah sepanjang hari. Ironisnya, di era ini bahan pembuat lipstik diambil dari tanaman cerucai, yang mana memiliki kandungan yang cukup kuat.

Perkembangan lipstik di Eropa Barat


Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, Eropa memasuki zaman kegelapan. Zaman di mana seluruh aturan diambil oleh majelis dewan Gereja, bukan lagi parlemen ataupun raja. Di era ini, sejarah perkembangan lipstik kurang begitu jelas.

Ini disebabkan satu-satunya sumber informasi berasal dari catatan orang-orang gereja. Berdasarkan catatan mereka, para pemuka Katholik menganggap riasan wajah adalah bentuk pembangkangan kepada Tuhan.

“Gambar setan yang menaruh lipstik pada wanita kerap kali muncul, dan wanita harus mengenakan lipstik saat mereka membuat pengakuan,” kata Sally Pointer, penulis The Artifice of Beauty: A History and Practical Guide to Perfumes and Cosmetics.

Walau begitu, larangan pemakaian lipstik masih menyisakan celah. Menurut Sally, para pastor mengijinkan para wanita memakai lipstik untuk ‘memperbaiki kerusakan parah’ agar tidak dipandang rendah oleh suami mereka.

Bagi wanita yang melanggar, mereka akan mendapatkan sanksi sosial. Meski di sejumlah tempat hal ini tidak sepenuhnya berlaku. Misalnya saja di Inggris pada awal zaman pertengahan yang memperbolehkan lipstik berwarna bunga bakung dan bunga mawar. Alasannya karena kedua warna ini melambangkan kemurnian. Oleh karena itu penggunannya tidak dipermsalahkan.

Memasuki abad enam belas, hubungan lipstik dan gereja maju mundur. Di satu sisi larangan pemakaian lipstik masih berlaku, namun di sisi lain Ratu Elizabeth I I tidak mengindahkan aturan tersebut. Pasalnya sang ratu percaya jika lipstik memiliki kemampuan magis untuk menyembuhkan penyakit dan mampu menghindarkan kematian.

Lukisan Ratu Elizabet 1 Inggris saat mengenakan lipstik
Lukisan Ratu Elizabeth I. Sumber gambar: Wikimedia

Sebuah kepercayaan yang ironis. Mengingat Ratu Elizabeth I menggunakan lipstik yang mengandung timah. "Banyak lipstik pada saat itu mengandung ceruse yang terbuat dari timah. Hal ini perlahan akan meracuni pemakainya sampai mereka meninggal keracunan timbal," ujar Hernandez, pengarang Classic Beauty: The History of Makeup, seperti dikutip dari Bustle.

Meski begitu, Ratu Elizabeth I berhasil menorehkan prestasi tersendiri dalam sejarah lipstik, yakni dengan menemukan pensil bibir. Dia atau orang dekatnya diperkirakan membuat pensil bibir dengan mencampur alabaster dengan ramuan pewarna, lalu menggulungnya hingga berbentuk krayon. Setelah itu, krayon tinggal dijemur dan pensil bibir siap digunakan.

Setelah kematian sang ratu, orang-orang gereja kembali mengangkat keharaman lipstik. Bahkan parlemen Inggris mengeluarkan undang-undang yang menyatakan wanita yang menggunakan riasan untuk merayu pria agar menikahinya adalah bentuk dari ilmu hitam. Oleh karena itu mereka harus dihukum.

Memasuki era Viktoria, pelarangan lipstik kian menjadi-jadi. Ratu Victoria mengumumkan pelarangan penggunaan lipstik di muka umum, kecuali untuk pelacur dan aktris. Keputusan ini tidak serta merta mengenyahkan eksistensi lipstik, hanya memindahkannya ke bawah tanah saja.

Banyak wanita yang memilih untuk mengakali aturan tersebut. Caranya beragam. Misalnya dengan cara mencium kertas krep merah, menggigit bibir mereka, menggunakan salep ‘carmine’ untuk mengatasi bibir pecah-pecah.

Praktek diam-diam ini terus dilakukan para wanita sepanjang era Viktoria hingga akhirnya keberadaan lipstik mulai diterima masyarakat. Salah satu tonggaknya ialah saat  aktris ternama Sarah Bernhardt mengoleskan lipstik merah di depan umum pada tahun 1880’an.

1900’an hingga masa kini


Abad ke dua puluh merupakan era kembalinya kejayaan lipstik. Lipstik tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Malahan lipstik diasosiasikan sebagai simbol feminitas sekaligus emansipasi. Melekatnya simbol emansipasi tidak bisa dilepaskan dari demonstrasi ‘lipstik merah’ suffragette pada tahun 1912.

Dua orang pemimpin gerakan suffragette New York, Elizabeth Cady Stanton dan Charlotte Perkins Gilman, mengenakan lipstik sebagai tanda emansipasi ketika mengikuti demonstrasi suffragettes di New York. Setelahnya, para wanita suffragette selalu memerahkan bibirnya sebagai prosedur tetap dalam setiap aksi mereka.

"Manifestasi lipstik merah pertama dan paling terkenal sebenarnya terjadi di New York saat para suffragettes turun ke jalan, bersatu, dan sebagai bagian dari pembangkangan dan perjuangan menuntut hak pemungutan suara, mereka semua memakai lipstik merah terang," jelas Madeleine Marsh, seperti dikutip dari WNYC.

Marsh dalam bukunya Compacts and Cosmetics juga menjelaskan jika pemilihan warna merah terang memiliki arti khusus. Makna eksplisitnya adalah tuntutan mendapatkan hak pilih, sedangkan implisitnya yaitu wanita harus bebas menentukan penampilannya sesuai keinginan mereka.

Pamor lipstik kian menjadi-jadi setelah Maurice Levy menemukan lipstik yang dikemas dalam tube metal pada tahun 1915. Cara kerja lipstik baru ini cukup sederhana, cukup geser tuas kecil di sisi tabung dan lipstik akan keluar.

Desain baru ini membuat lipstik makin praktis digunakan dan memudahkannya dibawa kemana-mana. Pasalnya sebelum kehadiran lipstik tube, lipstik biasanya dikemas dengan kertas sutera atau wadah lainnya. Sementara lipstik tube modern yang kita kenal hari ini dipatenkan oleh James Bruce Mason Jr. in Nashville pada tahun 1923.

Ketika Perang Dunia Kedua pecah, fungsi lipstik juga bergeser. Dari yang tadinya sekedar make up, kini lipstik diasosiasikan sebagai bentuk patriotisme. Pasalnya pemakaian lipstik dianggap dapat meningkatkan moral prajurit dan wanita yang bekerja di garis depan.

Hal yang paling menarik di era ini yaitu Hitler, sang Fuhrer Nazi, ternyata sangat membenci lipstik. Alasannya karena lipstik dibuat dari lemak binatang. "Hitler membenci lipstik merah dan tidak mengizinkan wanita mana pun di sekitarnya untuk memakainya,” kata Sarah Schaffer, pengarang Reading Our Lips: The History of Lipstick Regulation in Western Seats of Power.

Setelah perang usai lipstik kembali menjadi simbol glamour berkat kampanye iklan ‘Fire and Ice’ di tahun 1952. Kampanye ini dianggap sebagai taktik pemasaran paling sukses sepanjang sejarah kosmetik. Kampanye ini berisi lima belas pertanyaan untuk menguji kepribadian pembaca apakah sudah sesuai dengan lipstik merah atau tidak.

Tampil cantik dengan memakai lipstik berwarna merah terang
Sumber gambar: Pixabay

Kesuksesan kampanye ini tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan yang diajukan. Di mana isi dari pertanyaan tersebut memberikan keleluasaan bagi wanita untuk membayangkan dirinya sebagai gadis baik atau gadis nakal, lebih sopan atau berani.

Ditambah lagi para ikon Hollywood, seperti Grace Kelly, Marilyn Monroe, Audrey Hepburn, dan Elizabeth Taylor, kerap wara-wiri muncul sembari mengenakan lipstik. Efeknya tren penggunaan lipstik naik signifikan di kalangan wanita. Bahkan sebuah survey yang diadakan pada tahun 50’an mengklaim jika 60 persen remaja putri menggunakan lipstik.

Sayangnya satu dekade kemudian, popularitas lipstik merah malah melorot. Kemorosotan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti perubahan tren, preferensi hippie yang memilih natural, hingga protes kalangan feminis yang menganggap lipstik merah hanya untuk menyenangkan pria.

Namun ini bukan berarti pesona lipstik pudar. Karena yang berubah adalah preferensi warnanya saja. Di mana lipstik merah dianggap sebagai peninggalan generasi lama, sedangkan generasi baru yang enerjik lebih menyukai warna pastel dan nude.

Nasib lipstik merah tidak kunjung berubah ketika memasuki tahun 80’an. Popularitasnya bahkan makin pudar. “Warna pink atau rose populer sebagai warna sehari-hari, meninggalkan warna merah untuk acara-acara khusus,” kata Hernandez.

Memasuki milenium kedua, preferensi penggunaan lipstik berubah total. Dibanding tren, para wanita masa kini memilih lipstik berdasarkan mood. Karena itu wanita sekarang bisa gonta-ganti warna lipstik setiap harinya. Sementara larangan dan tabu lipstik tidak lagi berlaku. Lekang ditelan zaman. 

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar sejarah dan ragam atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar: Pixabay

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »