11 Temuan Ilmiah yang Membuktikan Alien itu Ada

siluet seorang alien yang sedang memasuki UFO


raSains.com - Apakah kamu percaya keberadaan alien? Pertanyaan ini masih menjadi topik yang enak dibahas di internet. Pasalnya teknologi penjelajah antariksa yang masih terbatas, membuat kita belum bisa menemukan keberadaan mereka.

Meski begitu, para ilmuwan telah berhasil menemukan sejumlah ‘bukti’ kemungkinan keberadaan makhluk luar angkasa. Bukti-bukti tersebut berasal dari temuan ilmiah dan ‘oleh-oleh’ sejumlah misi luar angkasa. Apa saja bukti tersebut?

1. Ada air di Planet Mars

ilustrasi air di planet merah mars
Sumber gambar: Pixabay

Potensi keberadaan makhluk luar angkasa di Planet Mars sering menjadi obrolan panas, baik di kalangan ilmuwan maupun warganet. Salah satu penyebabnya ialah adanya air di planet merah tersebut.

Berdasarkan artikel yang dipublikasikan di situs NASA, diperkirakan 4,3 miliar tahun yang lalu Mars memiliki air dalam jumlah yang banyak. Jumlahnya bahkan melebihi Samudera Artik. Fakta ini didapatkan setelah para ilmuwan kandungan air di atmosfer Mars menggunakan pengamatan darat.

“Studi kami dapat memperkirakan berapa jumlah air yang ada dengan mengukur banyaknya air yang menguap ke angkasa,” kata Geronimo Villanueva, ilmuwan yang bekerja di NASA’s Goddard Space Flight Center.

Diperkirakan hampir separuh belahan utara planet tersebut tertutup air pada jaman dahulu. Di mana kedalamannya bervariasi, mulai dari 137 meter hingga 1,6 kilometer.

Penelitian lain yang dilakukan di European Southern Observatory’s Very Large Telescope dan W.M. Keck Observatory and NASA Infrared Telescope Facility berhasil menemukan sejumlah fakta menarik perihal laut purba tersebut.

Dengan meneliti jejak kimia dari dua bentuk air di Mars, H2O dan HDO, lalu membandingkan rasionya dengan meteorit yang berasal dari 4,5 miliar tahun silam, para peneliti berhasil melacak perubahan iklim dan cuaca di planet tersebut.

Tidak hanya itu, para peneliti juga berhasil memperkirakan volume air di Northern Plains yang mencapai 20 juta kilometer kubik. Dengan luas cakupan mencapai 19 persen Planet Mars.

“Dengan Mars kehilangan banyak air, planet ini mungkin basah jauh lebih lama dibanding yang kita duga sebelumnya, menunjukan (Mars) telah dihuni lebih lama,” kata Michael Mumma, ilmuwan senior di NASA’s Goddard Space Flight Center.

2. Ada miliaran planet di alam semesta

miliaran planet dan bintang yang ada di luar angkasa
Sumber gambar: Pixabay

Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah planet yang ada di alam semesta. Bayangkan, menurut para astronom galaksi Bima Sakti memiliki paling sedikitnya seratus miliar planet berbagai ukuran. Dengan jumlah sebanyak itu, kemungkinan adanya planet yang memiliki kehidupan amatlah tinggi.

Belum lagi ditambah potensi yang ada di galaksi lain. Di mana jumlahnya mencapai 200 miliar galaksi, dan bakal bertambah seiring berkembangnya teknologi antariksa. Dengan kata lain kemungkinan adanya alien masih terbuka lebar.

Sampai saat ini, para ilmuwan telah berhasil mengidentifikasi sejumlah planet yang mampu menopang kehidupan di luar Bumi. Misalnya saja Proxima b yang ada di bintang Proxima Centauri yang ditemukan tahun 2016.

Planet bermassa 1,3 kali Bumi ini berada di zona yang menyokong kehidupan, dan diperkirakan memiliki air. ‘Bumi kedua’ ini berjarak 4,2 juta tahun cahaya atau 70.000 tahun perjalanan dengan teknologi saat ini.

Proxima b adalah contoh kecil dari kemungkinan adanya planet yang dapat didiami makhluk hidup. Di sisi lain, pencarian planet yang didiami makhluk hidup tidak berhenti sampai di sini. Pada pertengahan tahun 2017 lalu, NASA mengumumkan sepuluh ‘Bumi kedua’ yang ditemukan melalui teleskop luar angkasa Kepler.

Di mana sepuluh planet tersebut mengorbit ke matahari dalam zona layak huni (habitable zone). Secara teori, planet yang ada di zona ini memiliki temperatur yang mendukung adanya air dan kehidupan, sama seperti yang dimiliki Bumi.

“Apakah kita sendiri? Mungkin (teleskop luar angkasa) Kepler, hari ini, mengatakan kepada kita meski secara tidak langsung, walau dibutuhkan konfirmasi, jika mungkin kita tidak sendirian,” kata Mario Perez, ilmuwan Kepler, seperti dikutip dari Aljazeera.

3. Tidak banyak planet layak huni di Galaksi Bima Sakti

galaksi bima sakti dilihat dari Bumi
Sumber gambar: Pixabay

Kenapa kita tidak pernah berkomunikasi dengan alien? Ada dua kemungkinan. Pertama disebabkan teknologi, dan yang kedua karena Galaksi Bima Sakti tidak termasuk galaksi yang layak huni. Karena tidak layak huni itulah kemungkinan manusia berkomunikasi dengan makhluk asing amatlah kecil.

Menurut Anupam Mazumdar, ahli kosmologi partikel dari Lancaster University, ada tiga syarat sebuah galaksi disebut layak huni. Pertama adalah total massa yang merupakan representasi dari banyaknya planet layak huni.

Kriteria kedua ialah jumlah massa ‘logam’ untuk membentuk planet seperti Bumi. Terakhir yaitu tingkat pembentukan bintang yang sedang berlangsung. Di mana tingkat pembentukan yang tinggi meningkatkan kemungkinan bintang layak huni berdekatan dengan bintang raksasa yang pada akhirnya ikut mati saat supernova.

Mazmumdar dan timnya telah meneliti 1.800 dari 140.000 galaksi yang diamati astronom menggunakan Apache Point Observatory di New Mexico. Dari jumlah itu ditemukan dua ratus galaksi yang masuk ke dalam kriteria layak huni. Jumlah ini tentu bisa bertambah seiring banyaknya galaksi yagn selesai diamati.

4. Persamaan Drake

Dr Frank Drake sedang berpidato
Credit: Raphael Perrino

Berapa banyak peradaban ekstraterrestrial yang ada di galaksi kita? Teknologi manusia yang terbatas belum memungkinkan kita menjawab pertanyaan tersebut. Tapi bukan berarti kita tidak bisa memperkirakannya.

Frank Drake, Professor Emeritus dalam bidang Astronomi dan Astrofisika di University of California, mengajukan persamaan untuk menghitung jumlah peradaban makhluk asing di Galaksi Bima Sakti. Persamaan tersebut dikenal dengan nama Persamaan Drake, ada juga yang menyebutnya sebagai sebagai rumus Green Bank atau persamaan Green Bank.

Bunyi rumus persamaan Drake yaitu:
N= R.  fp . ne.  fl. . fi..  fc.. L

Di mana:
N = Jumlah peradaban ekstraterrestrial di Galaksi Bima Sakti
R  = Rata-rata pembentukan bintang (10 bintang / tahun)
fp = Pecahan bintang yang akan menjadi planet (0,5)
ne = Jumlah planet yang mendukung kehidupan per bintang (2 planet)
fl = Pecahan planet yang bisa mengembangkan kehidupan (1)
fi = Pecahan planet yang mendukung kehidupan cerdas (0,01)
fc = Pecahan peradaban yang mengembangkan teknologi untuk mengirimkan tanda komunikasi ke luar angkasa  (0,01)
L = Lama waktu setiap peradaban untuk mengirimkan tanda komunikasi (10.000 tahun)

Maka N = 10 × 0.5 × 2 × 1 × 0.01 × 0.01 × 10,000 = 10

Sayangnya persamaan ini tidaklah sempurna. Ada dua kritik yang dilayangkan kepada teori Frank Drake ini. Kritik pertama yaitu persamaan ini didasarkan pada rekaan, sehingga penarikan kesimpulan menjadi kurang valid.

Sedangkan kritik yang kedua seputar pernyataan kemunculan dan kematian peradaban asing mengikuti tata surya yang menutup kemungkinan adanya kolonisasi antar bintang memanfaatkan pesawat UFO (unidentified flying object) yang bisa saja dilakukan alien.

5. Kehidupan di Bumi berasal dari luar angkasa

kehidupan manusia dan alien di antariksa
Credit: mcscrooge54

Dari mana kehidupan di Bumi berasal? Selama bertahun-tahun para ilmuwan biologi berdebat mengenai misteri asal muasal kehidupan. Sebagian meyakini terra firma (berasal dari planet Bumi), lainnya percaya kalau kehidupan di sini berasal dari luar angkasa.

Potensi asal kehidupan dari luar Bumi memang masih terbuka lebar. Mengingat masih banyak misteri luar angkasa yang belum terpecahkan. Salah satu ilmuwan yang memiliki gagasan serius soal ini ialah Chandra Wickramasinghe. Di mana pada tahun 1974, ia mengajukan argumen jika sebagian debu luar angkasa mengandung karbon, dan memiliki potensi melahirkan organisme.

Gagasan ini makin kuat seiring penemuan bukti baru. Misalnya pada tahun 2012 lalu, sejumlah ilmuwan Denmark berhasil menemukan flycolaldehyde (penyusun RNA) yang berada di sistem perbintangan yang berjarak empat ratus tahun cahaya dari Bumi.

Pada tahun selanjutnya, giliran molekul prebiotik cyanomethanimne ditemukan pada partikel es di awan raksasa di gas interstellar yang berjarak 25.000 tahun cahaya. Molekul cyanomethanimne memiliki kemampuan untuk menghasilkan adenin yang bakal membentuk tangga DNA.

Lalu bagaimana caranya pembentuk kehidupan di atas bisa sampai di Bumi? Misteri ini coba dijawab oleh ilmuwan Ceko dengan mengajukan gagasan bahwa komponen organik di luar angkasa dibawa oleh meteor dan asteroid yang jatuh ke Bumi.

Untuk menguji hal ini, Japanese Space Agency mencoba mengekspos asam amino ke luar angkasa pada tahun 2015. Hasilnya asam amino tersebut mampu membut blok-blok kehidupan. Di mana fakta ini makin menguatkan gagasan Wickramasinghe mengenai asal usul kehidupan.

6. Ada mikroba di meteorit

bukti fosil bakteri yang dibawa meteorit asal Mars
Foto fosil 'bakter' yang ada di ALH84001. Sumber gambar: Wikimedia

Kecurigaan terhadap meteor dan asteroid yang menjadi kendaraan komponen organik dari luar angkasa makin menguat setelah ditemukannya bakteri Mars di Allan Hills 84001 (kadang disingkat sebagai ALH84001).

ALH84001 adalah meteorit yang ditemukan Tim ilmuwan Amerika yang tergabung dalam ANSMET project di benua Antartika pada 27 Desember 1984. Pada mulanya penemuan ini dianggap biasa saja oleh banyak orang.

Namun semua berubah setelah David S. McKay dari NASA mengklaim berhasil melacak sisa jejak kehidupan dari Planet Mars di batu meteor tersebut. Berdasarkan artikel yang dipublikasikan di jurnal Science, McKay melaporkan adanya temuan struktur berdiameter 20-100 nanometer yang diintrepertasikan sebagai fosil bentuk kehidupan seperti bakteri.

Penyelidikan lebih lanjut pun diteruskan. Hingga pada tahun 2009, tim ilmuwan di Johnson Space Center, termasuk MacKay, menyatakan keberadaan bentuk kehidupan di Allan Hills 84001 itu nyata. Terbukti dari ditemukannya struktur yang mirip fosil di Planet Merah.

7. Ada debu bintang dalam atom kita

ilustrasi galaksi dan planet bumi di luar angkasa
Credit: European Southern Observatory

Tahukah kamu jika setengah atom yang ada dalam tubuh kita berasal dari debu kosmik? Debu ini berasal dari bintang yang meledak miliaran tahun lalu. Angin ledakan yang begitu kencang menghempaskan trilunan atom dengan kecepatan ribuan kilometer perdetik hingga sampai ke Galaksi Bima Sakti.

Dalam wawancaranya dengan National Geographic, Karel Schrijver, astrofisikawan di Lockheed Martin Solar and Astrophysics Laboratory, bersama dengan istrinya, Iris Schrijver, professor patologi di Stanford University, mengemukakan fakta menarik perihal debu bintang ini.

“Kita dan semua yang ada di alam semesta berasal dari debu bintang yang terus mengambang melewati kita hingga hari ini. Langsung menghubungkan kita dengan alam semesta dan membangun ulang tubuh kita terus menurus sepanjang hidup,” kata Iris.

Lalu bagaimana debu bintang bisa menjadi bagian atom di tubuh kita? Pada mulanya debu-debu kosmik tersebut menjadi bagian awan gas yang memadat dan mengempis. Awan gas tersebut kemudian berubah menjadi sistem tata surya, bintang dan planet yang ‘melahirkan’ kehidupan.

8. Kehidupan bisa muncul dari masa saja

ilustrasi bentuk bakteri
Sumber gambar: Pixabay

Jika kehidupan bisa muncul dari mana saja, maka keberadaan alien di ujung galaksi adalah hal yang mungkin. Temuan ilmiah yang mendukung hal ini digagas oleh Jeremy England, asisten profesor di Massachusetts Institute of Technology.

England berhasil menemukan teori matematika yang diyakini mampu menjelaskan asal usul kehidupan. Formula yang ia rumuskan didasarkan pada konsep fisika di mana ketika sekelompok atom didorong energi eksternal, atom tersebut biasnaya akan merestrukturasi dirinya untuk mengusir energi.

“Kamu memulainya dengan sekelompok atom yang disinari cahaya, jika cukup lama, jangan heran jika kamu mendapatkan tumbuhan,” kata England.

Teori yang England kemukakan mendapat respon beragam dari kalangan ilmuwan. Sebagian memujinya, lainnya mengkritik gagasannya. Salah satu ilmuwan yang mengapresiasi temuan England yaitu Alexander Grosberg, profesor fisika di New York University.

Grosberg mengatakan gagasan England sebagai sesuatu yang sangat berani, sekaligus harapan baru untuk membawa prinsip-prinsip fisika dalam menjelaskan asal usul kehidupan. Namun tanggapan berbeda datang dari Eugene Shakhnovich, profesor kimia Harvard University. Menurutnya, apa yang dikemukakan England cukup menjanjikan tapi kurang meyakinkan.

“Ide Jeremy sangat menarik dan menjanjikan, namun pada titik ini bisa dibilang sangat spekulatif, apalagi diaplikasikan ke fenomena hidup,” katanya.

Terlepas dari semua itu, apa yang digagas England berhasil membuka cakrawala baru mengenai bukti nyata keberadaan alien di luar angkasa.

9. Ada samudera di satelit Europa

satelit Europa milik Jupiter dan satelit Cassini
Credit: Kevin GIll

Planet Jupiter memiliki banyak fakta menakjubkan, salah satunya yaitu kemungkinan adanya kehidupan di Europa. Europa merupakan satelit terkecil di antara Bulan Galilean. Diameternya hanya 3.100 kilometer, lebih kecil dibanding bulan Bumi.

Walau ukurannya mungil, Europa memiliki samudera sedalam 100 kilometer di balik lapisan es yang menyelubunginya. Alasan samudera ini tidak membeku dikarenakan panas yang dikeluarkan inti Europa. Namun apakah ada kehidupan di dalam samudera tersebut masih menjadi misteri.

Sampai saat ini, proses eksplorasi satelit Europa tengah dipersiapkan oleh European Space Agency (ESA). Di mana sejak tanggal 17 Juli 2015 lalu, ESA telah menandatangani kerjasama dengan Airbus Defense and Space untuk menyiapkan misi JUpiter ICy moons Explorer  atau JUICE. Jika semuanya berjalan dengan baik, misi JUICE akan diluncurkan tahun 2022, dan diperkirakan sampai di Europa pada 2030.

Di sisi lain, NASA juga mempersiapkan misi yang Europa Clipper. Misi ini sedikit berbeda dengan ESA, karena Europa Clipper hanya mengitari satelit tersebut. Rencananya misi NASA ini juga akan diluncurkan pada tahun 2022.

10. Enceladus, bulan milik Saturnus yang punya lautan luas

satelit Enceladus Saturnus dilihat dari dekat
Sumber gambar: Wikimedia

Europa bukanlah satu-satunya satelit di Galaksi Bima Sakti yang memiliki air. Enceladus, salah satu satelit Saturnus, juga mempunyai lautan yang luas. Keberadaannya pertama kali dilaporkan oleh pesawat ulang alik Cassini.

Laporan yang dimuat di jurnal Science tersebut menjelaskan mengenai keberadaan air asin yang bercampur dengan butiran pasir yang kaya silika, nitrogen, amonia, dan sejumlah molekul pembawa karbon.

Menariknya, Cassini juga menemukan ventilasi hidrotermal yang bertugas memanaskan perariran dan diperkirakan menjadi sumber kehidupan mikro metanogen untuk melangsungkan kehidupannya.

Penemuan samudera asin, sumber energi, dan senyawa organik sederhana di Enceladus memberikan pemahaman baru kepada astrobiologi dan studi lingkungan di luar angkasa. Tentunya temuan ilmiah ini bakal menjadi batu pijakan untuk menemukan makhluk luar angkasa suatu saat nanti.

11. Kemungkinan ada kehidupan sederhana di satelit Titan Saturnus

Satelit titan yang penuh lautan metana
Credit: NASA/JPL-California Institute of Tecnology

Temuan ilmiah yang terakhir yaitu kemungkinan kehidupan di satelit Titan. Kemungkinan ini merupakan hal yang luar biasa, mengingat Titan memiliki atmosfer yang kaya nitrogen dan permukaannya ditutupi metana cair.

Meski lingkungan Titan begitu keras, namun hal ini tidak menutup kemungkinan munculnya kehidupan. Kesimpulan didapatkan dari studi yang dilakukan ilmuwan Cornell University. Di mana mereka mengembangkan teori sel membran Azotome.

Berdasarkan laporan yang dimuat di jurnal Science Advanced, Azotome terbuat dari nitrogen, karbon, dan hidrogen yang mana banyak ditemukan di lautan krogenik Titan. Sel ini memiliki banyak kesamaan dengan membran fosfolopid Bumi, seperti stabilitas yang baik, penghalang yang kuat terhadap dekomposisi, dan fleksibilitas yang cukup.

****

Temuan-temuan ilmiah di atas membuktikan dua hal, yakni masih banyaknya misteri luar angkasa yang belum terpecahkan dan kemungkinan adanya kehidupan yang entah berwujud apa di ujung galaksi sana.

Namun yang pasti, misteri alien dan luar angkasa bakal terpecahkan suatu saat nanti. Seiring kemajuan teknologi dan kemungkinan pembuatan koloni manusia di luar angkasa.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar antariksa dan alam semesta atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Pixabay

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »