Ganja vs Alkohol: Mana yang Lebih Buruk Menurut Sains?



raSains.com - Ganja dan alkohol, mana menurut kamu yang lebih buruk bagi kesehatan? Mungkin kamu menjawab ganja, atau bisa juga alkohol. Sayangnya jawaban pertanyaan ini jauh lebih rumit dibanding yang kamu kira.

Pasalnya penelitian mengenai ganja terbilang minim karena dianggap ilegal di banyak negara. Beda halnya dengan alkohol yang telah diteliti bertahun-tahun yang lalu. Ditambah lagi efek keduanya bergantung pada banyak faktor, misalnya pola penggunaan dan jangka waktu pemakaian.

Meski begitu kamu masih bisa mengetahui mana yang lebih buruk bagi kesehatan dengan membandingkan sejumlah efek dari penggunaan ganja dan alkohol di bawah ini:

1. Alkohol dan ganja, mana yang lebih membuat kecanduan?

Sumber gambar: Pixabay

Sebagai salah satu jenis narkoba, kamu mungkin mengira ganjalah yang paling membikin orang ketagihan. Sayangnya hal ini tidak benar. Dikutip dari Scientific American, survei besar-besaran yang dilakukan ahli epidemologi James Anthony menemukan fakta jika tingkat kecanduan ganja berada di bawah rokok dan alkohol.

Berdasarkan data yang didapatkan Anthony, 9 persen orang yang pertama kali memakai ganja dinyatakan bebas dari kecanduan. Berbanding terbalik dengan alkohol yang mencapai 15 persen dan rokok tembakau yang sebesar 32 persen.

Bahkan jika dibandingkan narkoba jenis lain, tingkat kecanduan ganja jauh lebih rendah. Misalnya saja persentase kecanduan kokain yang mencapai 17 persen, serta heroin yang sebesar 23 persen.

2. Alkohol lebih ramah bagi jantung dibanding ganja

Sumber gambar: Pexels

Salah satu efek positif alkohol yaitu mengurangi resiko serangan jantung. Dengan catatan, kamu meminumnya dalam takaran yang tepat. Pasalnya takaran alkohol yang pas dapat memperlambat kerja jantung yang pada ujungnya mengurangi resiko serangan jantung.

Fakta ini didapatkan dari temuan Brigham and Women's Hospital pada 84.000 perempuan yang rutin mengonsumsi alkohol dalam takaran kecil (setengah hingga satu gelas setiap hari). Di mana para peneliti menemukan fakta jika perempuan-perempuan tersebut memiliki resiko serangan jantung yang lebih rendah.

Sebaliknya penggunaan ganja malah meningkatkan kerja jantung. Sayangnya data efek peningkatan kerja jantung ini masih belum memadai. Pasalnya sampai saat ini, studi mengenai hubungan ganja dan serangan jantung masih sangat minim.

Meski begitu, konsumsi alkohol dalam takaran yang tinggi dalam waktu yang singkat jauh lebih berbahaya dibanding ganja. “Kamu dapat tewas lima menit setelah pesta alkohol. Tapi ini tidak berlaku kepada mariyuana. Efek penggunaannya lebih halus,” kata Ruben Baler, ilmuwan dari National Institute on Drug Abuse, seperti dikutip dari Live Science.

3. Dalam jangka panjang, alkohol dapat menyebabkan kanker

Sumber gambar: Pexels

Bagi kamu yang suka minum alkohol dalam takaran yang tinggi, ada baiknya segera kurangi. Pasalnya dalam jangka panjang, kebiasaan buruk ini dapat mengakibatkan penyakit kanker.

Menurut Gary Murray dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, kebiasaan minum alkohol dalam takaran yang besar dapat menyebabkan penyakit hati alkoholik yang bakal berkembang menjadi kanker hati.

“Saya menekankan ‘bisa’,” kata Murray.

Lalu bagaimana dengan ganja? Hubungan merokok ganja dengan kanker paru-paru dinyatakan tidak ada. Pada studi awal, para ilmuwan memang menemukan sejumlah bukti. Namun pada penelitian selanjutnya bukti-bukti tersebut ditolak.

Hal ini jelas bertolak belakang dengan penelitian mengenai hubungan rokok tembakau dengan kanker paru-paru.  Menurut Ruben Baler, alasan efek merokok mariyuana tidak sama dengan tembakau kurang begitu jelas. Kemungkinan ada senyawa dalam ganja yang membatalkan efek tersebut atau bisa juga disebabkan perilaku kesehatan pemakai ganja yang berbeda.

Namun hal ini tidak berarti merokok ganja benar-benar aman. Berdasarkan laporan dari National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, merokok ganja dapat menyebabkan bronkitis akut. Apalagi jika intensitasnya tinggi.

4. Perbandingan resiko kecelakaan saat menyetir antara alkohol dan ganja

Sumber gambar: Pexels

Menyetir mobil saat mabuk alkohol memiliki potensi kecelakaan yang lebih tinggi dibanding dengan teler ganja. Pasalnya kandungan HTC (zat psikoaktif dalam ganja) tidak meningkatkan resiko kecelakaan.

Sedangkan persentase peningkatan resiko kecelakaan naik menjadi 83 persen. Bertolak belakang dengan alkohol, di mana 0,05 kandungan alkohol dalam darah mampu meningkatkan kecelakaan hingga 575 persen.

Bagaimana jika menggunakan alkohol dan ganja dalam waktu bersamaan? Menurut laporan yang dirilis di American Jpurnal of Addiction, ternyata resikonya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mengonsumsinya sendiri-sendiri. 

5.  Alkohol berbahaya bagi ibu hamil

Sumber gambar: Pixabay

Bagi ibu hamil, hindari meminum alkohol. Karena alkohol dapat membahayakan perkembangan janin, terutama pada minggu-minggu awal kehamilan. Jika nekat mengonsumsi alkohol, ada kemungkinan bayi kamu bakal mengalami FASDs (fetal alcohol spectrum disorders) yang terdiri atas disabilitas fisik, mental, dan perilaku anak.

“Setiap perempuan yang ingin hamil dan sedang hamil pasti mengharapkan bayi yang sehat. Tapi mereka tidak sadar jika minum alkohol pada tahap awal kehamilan dapat menyebabkan kecacatan pada anak mereka,” kata Coleen Boyle Ph.D., direktur CDC’s National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities.

Lalu apakah mengonsumsi mariyuana tidak masalah? Ternyata tidak. Meski ata penunjang masih minim, namun sejumlah penelitian awal menemukan jika kandungan HTC dapat menembus ke rahim, dan dapat menggangu perkembangan otak, kognisi, dan berat badan sang buah hati.

"Ada sejumlah pandangan, menggunakan ganja itu aman, bahkan ketika hamil, tanpa data yang menunjukan jika hal tersebut benar-benar aman," kata Dr. Torri Metz, dokter kandungan di Denver Health Medical Center, seperti dikutip dari New York Times.

6. Alkohol dekat dengan kekerasan dibanding ganja

Sumber gambar: Pixabay

Gambaran alkohol yang lekat dengan kekerasan dalam film tidaklah salah. Kekerasan yang dipicu oleh alkohol memang sangat tinggi, lebih tinggi dari ganja ataupun narkoba.

Berdasarkan data yang dibeberkan National Council on Alcoholism and Drug Dependence, hampir 40 persen kasus kekerasan dipicu minuman beralkohol. Bahkan menurut data yang dikumpulkan Department of Justice Amerika Serikat, 37 persen pelaku kejahatan di negeri Paman Sam ditangkap saat mereka minum alkohol.

Data lain yang dihimpun Bureau of Justice Statistics menunjukan alkohol sebagai biang keladi kasus kekerasan domestik. Di mana kekerasan rumah tangga yang dipicu alkohol mencapai 55 persen, sedangkan narkoba hanya 9 persen.

Sebaliknya potensi kekerasan yang dilakukan pengguna ganja jauh lebih rendah. Berdasarkan penelitian yang dimuat di NCBI diketahui kekerasan domestik yang dilakukan pemakai ganja jauh lebih rendah, bahkan ketika dibandingkan dengan meraka yang tidak menggunakan ganja.

7. Alkohol dan ganja berdampak buruk bagi ingatan kita

Sumber gambar: Pixabay

Ganja dan alkohol sama-sama berdampak buruk bagi ingatan. Baik efek temporer dan jangka panjang. Misalnya untuk efek temporer, pengguna ganja dan alkoholik akan mengalami kesulitan mengingat. Bahkan efek ini dapat berlangsung hingga beberapa minggu untuk pengguna ganja.

Sedangkan efek jangka panjangnya, alkoholik bakal mengalami penurunan daya ingat, kesulitan berkonsentrasi, dan kurangnya proses emosional dan sosial kognisi. Efek lainnya yang perlu diperhatikan yaitu mengecilnya otak.

Bagian otak yang mengalami hal ini adalah lobus frontal yang bertanggung jawab atas intelejensi. Pengecilan ini akan semakin parah seiring bertambahnya usia. Meski begitu, penemuan ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Sementara efek jangka panjang bagi perokok ganja yaitu mengalami gangguan ingatan verbal. Dengan catatan, penggunaan ganja sudah dilakukan sejak masa remaja.

8. Ganja dan alkohol dapat menimbulkan gangguan mental

Sumber gambar: Pixabay

Ganja dan alkohol tidak hanya berdampak pada tubuh manusia, namun juga kesehatan jiwa mereka. Berdasarkan studi yang dipublikasikan di The National of Academies of Sciences Engineering Medicine, ditemukan sejumlah bukti hubungan antara intensitas merokok ganja dan gangguan jiwa schizophrenia dan psikosis.

Namun hubungan antara ganja dan schizophrenia jauh lebih rumit. Menurut Matthew Hill, seorang ahli biologi sel di University of Calgary, efek ganja terhadap gangguan jiwa masih diperdebatkan oleh sejumlah ilmuwan.

“Hanya sedikit bukti penggunaan ganja pada masa remaja dapat menyebabkan gangguan jiwa,” ujar Hill, seperti dikutip dari The Verge. “Namun bagi populasi yang beresiko tinggi, penggunaan ganja bakal merugikan.”

Ia juga menambahkan jika efek ganja dapat berbeda-beda pada individu. “Ada sejumlah studi yang menunjukan ganja dapat memiliki efek yang berbeda pada otak individu yang beresiko terkena schizophrenia dan yang tidak,” katanya.

Sementara itu, para peminum alkohol memiliki resiko menderita kecemasan dan depresi. Dikutip dari situs Royal College of Psychiatris, konsumsi alkohol dapat berefek pada otak yang ujung-ujungnya menimbulkan depresi.

Tidak cuma itu saja, kebiasaan mabuk-mabukan juga dapat menyebabkan siklus bangun tidur menjadi cemas, sakit,  dan gelisah. Jika kebiasaan ini terus berlanjut dalam jangka panjang, maka peminum alkohol dapat mengidap gangguan psikosis (mendengar suara ketika tidak ada siapa-siapa).

9. Interaksi dengan obat-obatan

Sumber gambar: Pixabay

Jangan sekali-kali mengkombinasikan alkohol dan obat. Karena nyawa kamu jadi taruhannya. Banyak kasus kematian yang terjadi akibat interaksi alkohol dan obat, terutama obat tidur dan penenang.

Menurut Nora Volkow, direktur National Institute on Drug Abuse, kombinasi obat pereda penenang dengan alkohol adalah yang paling mematikan. Karena keduanya dapat memperlambat pernapasan dan menghilangkan refleks batuk yang pada ujungnya dapat mengakibatkan kesulitan bernapas.

Bagaimana dengan ganja? Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai interaksi mematikan antara ganja dengan obat-obatan. Namun ini tidak berarti ganja aman. Karena masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menyatakan ganja bebas dari interaksi obat.

10. Alkohol bikin gemuk, ganja bikin lapar

Sumber gambar: Pixabay

Salah satu efek yang langsung dirasakan pemakai ganja yaitu rasa lapar. Bahkan ketika kamu sebetulnya sudah kenyang, senyawa dalam ganja akan menipu otak kamu sehingga kamu merasa lapar.

Seperti yang kamu tahu, makan berlebih dapat menimbulkan penumpukan lemak. Namun khusus untuk ini, hal itu tidak berlaku. Ya, makan berlebih akibat pemakaian ganja tidak akan membuat kamu gemuk.

Dalam survei yang dilakukan NESARC dan NCS terhadap 52.000 penduduk Amerika Serikat, diketahui jika 22 persen orang yang tidak merokok mengidap obesitas, sedangkan 14 persen yang rutin menggunakan ganja tidak mengalami obesitas.

Pada survei kedua, hasil yang didapatkan juga hampir sama. Di mana 25 persen yang tidak menggunakan ganja mengalami obesitas dan 17 persen pengguna ganja bebas dari obesitas. Hasil survei ini diperkuat oleh  penelitian mengenai efek THC (Tetra Hydro Cannabinol, bahan psikoaktif utama dalam ganja), yang membantu proses diet.

Bagaimana dengan alkohol? Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di NCBI, alkohol memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan ebrat badan. Pasalnya mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan energi, dan pada gilirannya menambah berat badan.

Apalagi alkohol mengandung kalori yang lumayan banyak. Sebagai gambaran, dalam satu kaleng bir terdapat kurang lebih 150 kalori, sedangkan satu gelas wine memiliki sekitar 120 kalori. Sekarang bayangkan jika kamu minum tiga sampai empat gelas wine, berapa kalori yang masuk ke dalam tubuh kamu? Banyak kan?

Kesimpulan sementara

Berdasarkan perbandingan kecanduan, resiko jangka panjang, hingga kematian di atas, dapat disimpulkan jika alkohol jauh lebih berbahaya bagi kesehatan dibanding ganja. Apalagi mendapatkan alkohol bukan perkara yang sukar.

Di Indonesia sendiri alkohol masih bisa dibeli di sejumlah tempat, misalnya supermarket hingga tempat hiburan malam, sedangkan membeli ganja hampir tidak mungkin seleluasa ini mengingat sifatnya yang ilegal.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar kesehatan atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Anthony Tenorio

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »