Kenapa Orang Suka Makan Pedas? Begini Penjelasan Ilmiahnya

ilustrasi perempuan yang suka makan cabai


raSains.com - Apa hal pertama yang kamu pikirkan ketika mendengar kata cabai? Rasa pedas! Ya, cabai adalah sayuran yang bertanggung jawab akan rasa pedas. Biasanya cabai digunakan sebagai bumbu masak, meski acapkali disajikan dalam bentuk sambal.

Rasa pedas memang bikin nafsu makan menggelegak. Namun tahukah kamu dari mana asal rasa pedas dalam cabai? Dan kenapa kamu dan banyak orang Indonesia bisa jatuh cinta kepada cabai?

Di balik kepedasan cabai

Kuliner korea berbahan kubis dan cabai yang sangat pedas
Sumber gambar: Pixabay

Banyak orang yang percaya jika biji cabai adalah pihak yang bertanggungjawab atas rasa pedas. Oleh karena itu, membuang biji cabai akan mengurangi kepedasannya. Padahal ini hanyalah sebuah mitos.

Kepedasan cabai tidak berasal dari bijinya, melainkan senyawa bernama capsaicin. Capsaicin merupakan senyawa aktif yang terdapat dalam cabai. Kandungan ini berguna untuk menangkal jamur dan patogen. Sedangkan jika dikonsumsi mamalia, bakal menimbulkan sensasi terbakar.

Berdasarkan sejarah, capsaicin pertama kali diekstrak oleh Christian Friedrich Bucholz pada tahun 1816, dan dinyatakan menyebabkan sensasi terbakar ketika bersentuhan dengan selaput lendir oleh ahli farmakologi Jerman Rudolf Buchheim dan dokter Hungaria Endre Hőgyes pada tahun 1870’an.

Menariknya, kadar kandungan capsaicin berbeda-beda, tergantung dari jenis cabai itu sendiri. Untuk mengukur kadar zat capsaicin dalam cabai digunakan tes khusus. Tes ini pertama kali diperkenalkan oleh Wilbur Scoville pada tahun 1912 dengan nama tes Organoleptic Scoville.

Pendekatan Wilbur cukup sederhana, yakni dengan mencampurkan ekstrak capsaicin dengan gula. Campuran ini lalu diuji oleh panel yang terdiri atas lima orang untuk dinilai, apakah rasa pedasnya masih terasa atau tidak.

Dari tes inilah lahir satuan untuk mengukur pedas yang dikenal sebagai satuan Schoville (SHU). Namun seiring perkembangan teknologi, pengujian menggunakan panel tidak lagi dilakukan karena dianggap ‘subyektif’. Sebagai gantinya, para ilmuwan menggunakan analit.

Sampai saat ini, rekor skala Schoville tertinggi masih dipegang oleh cabai Trinidad Scorpion Butch T dengan level kepedasan mencapai 1.463.700 SHU. Tingkat kepedasan cabai ini hampir dua kali lipat dari cabai Naga Viper atau Bhut jolokia yang dianugerahi Guinness World Records sebagai cabai terpedas di dunia. Di mana skala kepedasan cabai Naga Viper mencapai 800.000 SHU.

Sementara itu, level kepedasan cabai rawit (cayenne pepper) yang biasa orang Indonesia konsumsi hanya berkisar 30.000-50.000 SHU. Dengan kata lain, satu buah cabai Trinidad Scorpion Butch T sebanding dengan empat puluh kali lipat kepedasan cabai rawit.

Hingga kini belum ada laporan mengenai efek negatif dari mengonsumsi cabai Trinidad. Namun beda halnya dengan cabai Naga Viper. Di mana pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak empat puluh siswa Milton-Union Middle School jatuh sakit akibat banyak orang dilaporkan jatuh sakit setelah mengonsumsi ‘mantan’ cabai terpedas di dunia tersebut.

Bisa kamu bayangkan, apa jadinya jika siswa-siwa tersebut mengonsumsi cabai super pedas Trinidad yang memiliki kandungan capsaicin hampir dua kali lipat dari cabai Naga Viper?

Pedas itu bukan sekedar rasa

foto close up wanita yang sedang makan siang
Sumber gambar: Pixabay

Kita telah berbicara panjang lebar mengenai asal rasa pedas dalam cabai. Tapi apa sebenarnya pedas itu? Jika kamu mengira rasa pedas itu sama dengan rasa manis, asam, atau asin, maka kamu salah besar. Karena pedas sebetulnya bukan sebuah rasa!

Rasa pedas adalah sensasi terbakar yang dihasilkan capsicain. Sementara rasa manis dan rasa lainnya timbul dari reseptor di lidah, langit-langit mulut, dan belakang tenggorokan ketika bersentuhan dengan makanan.

Pemahaman mengenai apa itu rasa pedas berangkat dari keberhasilan ahli farmakologi David Julius dan timnya dari University of Californa yang menemukan reseptor capsaicin pada tahun 1997. Proses penemuan ini memakan waktu yang panjang.

Pada mulanya mereka mencoba mengetes setiap gen aktif dalam sensor saraf yang mungkin mampu merespon capsaicin. Namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya para peneliti menemukan gen TRPV1 (trip-vee-one).

Gen ini dapat ditemukan di balik lapisan kulit manusia. Fungsinya untuk memperingatkan manusia akan benda berbahaya yang dapat merusak jaringan serta merasakan perubahan suhu, misalnya makanan yang sangat panas.

Khusus untuk capsaicin, tidak semua gen TRPV1 dapat merespon dengan baik. Hanya gen yang ada di lapisan kulit yang lebih tipis, contohnya di sekitar mulut dan mata, yang mampu memberikan respin yang bagus.

Hasil penelitian ini menunjukan jika sensasi terbakar yang kamu rasakan ketika makan cabai merupakan kenyataan yang sebenarnya. Artinya mulut kamu memang benar-benar terbakar! Menariknya, TRPV1 juga mampu merespon sensasi pedas dari makanan lain, seperti lada, wasabi, lobak, hingga bawang putih.

Sedangkan cara paling efektif untuk meredakan pedas yaitu dengan mengonsumsi sesuatu yang mengandung banyak lemak, seperti susu dan yogurt. Bukan minum air putih sebanyak-banyaknya yang lumrah dilakukan sewaktu kepedasan.

Hal ini dikarenakan capsaicin memiliki sifat hidrofobik. Di mana senyawa jenis ini tidak bisa larut oleh air. “Sesuatu dengan banyak lemak akan melarutkan senyawa itu (capsaicin),” kata Mark Peacock, ilmuwan dari Univerisity of Sydney, seperti dikutip dari Australian Geographic.

Tergila-gila rasa pedas

cabai ditusuk dengan garpu
Sumber gambar: Pixabay

Kenapa banyak orang suka makanan pedas dan sambal? Beberapa daftar jawaban yang mungkin terbesit yaitu karena bikin enak masakan, rasanya ada yang kurang kalau makan tidak ditemani sambal, atau jawaban andalan setiap orang: tidak tahu.

Kecintaan manusia akan rasa pedas memang misterius. Namun tabir ini berhasil dibuka oleh Paul Rozin, psikolog dan perintis penelitian mengenai cabai. Menurutnya alasan di balik manusia jatuh cinta dengan rasa pedas yaitu karena mereka suka menyiksa dirinya.

Rozin mengungkapkan jika fenomena aneh ini merupakan bentuk dari ‘masokisme jinak’. Menurutnya rasa sakit adalah peringatan bagi tubuh. Bahwa apa yang ada di depannya dapat membahayakan diri kamu.

Misalnya saja ketika kamu makan makanan yang sangat panas, alarm tubuh kamu akan berdering, dan memaksa kamu menjauhi makanan tersebut untuk sementara waktu. Setidaknya menunggu makanan tersebut menjadi lebih dingin. Karena tidak ada satupun orang yang ingin mulutnya terbakar dan terluka.

Namun rasa pedas adalah hal yang berbeda. Rasa pedas mampu menipu otak kamu. Menyalakan alarm palsu bahwa kamu tengah menghadapi bahaya. Dengan kata lain mengonsumsi makanan pedas berarti menikmati sensasi bahaya tanpa resiko. Layaknya orang yang menaiki wahana roller coster untuk memompa adrenalin.

Apakah orang yang tidak menyukai rasa pedas mengalami sensasi bahaya yang sama? Jawabannya ya. Menurut Rozin tidak ada perbedaan sensasi di antara penyuka pedas dan pembenci pedas.

“Jika reseptor oral mengirimkan sinyal yang sama ke otak, seharusnya penyuka pedas juga mendapatkan sensasi yang sama dengan orang yang tidak suka pedas,” katanya, seperti diukutip dari Scientific America.

Dalam wawancaranya dengan NPR, Rozin menjelaskan lebih lanjut mengenai proses seseorang bisa menyukai rasa pedas. Menurutnya kesukaan ini tidak bisa dilepaskan dari faktor budaya. Di mana dalam kultur masyarakat yang gemar pedas, setiap orang akan ‘terpapar’ cabai dalam takaran yang tinggi sejak mereka kecil.

Paparan ini mengubah ketidaknyamanan akibat rasa pedas menjadi preferensi. Tentunya dalam waktu yang tidak singkat. Perubahan kondisi semacam ini disebut sebagai hedonic reversal. Kondisi pembalikan ini juga dapat ditemui pada hal lain, misalnya kopi dan rokok, yang tidak disukai anak kecil.

“Ibarat merokok. Ketika pertama kali merokok, itu begitu mengerikan. Tapi kamu terus melakukannya karena adanya tekanan sosial. Dari sini kamu memiliki pengalaman dan entah bagaimana berkat pengalaman tersebut semuanya terbalik,” kata Rozin.

Ilmuwan asal University of Pennsylvania itu juga menegaskan jika manusia adalah satu-satunya mamalia yang melakukan hal ini. "Kita adalah satu-satunya spesies, sejauh yang saya tahu, yang melakukan sesuatu untuk mencari kejadian negatif," kata Rozin.

Menariknya, kecintaan seseorang akan pedas juga berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Penelitian yang dilakukan Profesor John Hayes dan Nadia Byrnes dari University of Pennsylvania, berhasil menemukan jika orang yang suka pedas memiliki kepribadian yang suka mencari tantangan dibanding mereka yang tidak suka makan pedas.

Hayes dan Byrnes juga melakukan penelitian lanjutan mengenai kepribadian orang yang suka pedas setelah ilmuwan dari SUNY Stony Brook menemukan korelasi antara kepribadian penyuka cabai yang suka mencari tantangan dengan Zuckerman's Sensation Seeking Scale (skala psikologi yang digunakan untuk mengukur kepribadian yang suka mencari tantangan).

Studi lanjutan ini melibatkan 97 relawan dengan pertanyaan yang diajukan tidak bias gender. Mereka juga menggunakan skala empat poin untuk penilaiannya agar bisa mendapatkan gambaran yang lebih spesifik dibanding jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’.

Setelah mengikuti serangkaian tes, para relawan diminta untuk mengisi kuisioner kepribadian secara online. Hasilnya pencari tantangan muncul sebagai prediktor paling kuat. Lebih kuat dibanding penelitian Hayes sebelumnya. Dalam studi  ini ia belum berhasil menemukan dengan tepat apa penyebab para pencari tantangan suka makan pedas.

Dalam penelitiannya yang lain, Hayes membagi keperibadian menjadi dua, yakni pencari tantangan dan penyuka hal baru. Pembagian ini bertujuan untuk memudahkan peneliti untuk mengungkap penyebab kepribadian pencari tantangan yang menyukai pedas.

Menurut Hayes, kesukaan akan cabai dan makanan pedas tidak bisa dilepaskan dari masa kecil seseorang. “Paparan dalam masa kanak-kanak memainkan peran yang penting dalam menyukai rasa pedas,” katanya.

“Namun ada juga individu yang memperoleh preferensi makanan baru, seperti orang dewasa, begitu mereka pergi dari rumah. Rasanya masuk akal bahwa perbedaan kepribadian mungkin merupakan faktor dalam eksplorasi dan pembelajaran semacam ini," pungkasnya.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar makanan dan minumandan ragam atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Pixabay

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »