Kenapa Banyak Orang Suka dan Percaya Teori Konspirasi?

konspirasi new world order pada satu dolar amerika serikat


raSains.com - Teori konspirasi, dikenal juga sebagai teori persekongkolan, merupakan salah satu topik yang paling banyak diulas di internet, mulai dari konspirasi Yahudi, Freemason, hingga bumi datar. Pendukungnya juga melimpah ruah di jagad maya. Di mana sebagian besarnya begitu mempercayainya.

Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, hampir empat puluh persen warganya percaya konspirasi jika pemerintah menyembunyikan informasi soal alien, pemanasan global, hingga pembunuhan John F. Kennedy.

“Kami menemukan bukti yang kuat jika Amerika Serikat adalah masyarakat yang sangat percaya konspirasi,” kata Christopher Bader, sosiolog dari Chapman University

Fakta ini terungkap setelah para ilmuwan melakukan survei mengenai apa yang ditakuti warga Amerika Serikat pada tahun 2016 lalu. Temuan ini mengonfirmasi hasil penelitian empiris Joseph E. Uscinski dan Joseph M. Paren, ilmuwan asal University of Miami, yang dipublikasikan dalam buku American Conspiracy Theories tahun 2014 silam.

Di mana sepertiga orang Amerika percaya jika tragedi WTC 9/11 adalah rekayasa pemerintah AS. Tidak hanya itu saja, kepercayaan akan konspirasi bahkan ditemukan merata pada semua orang, baik liberal maupun 

Bedanya hanya terletak pada sosok konspirator di belakangnya. Di mana orang liberal percaya jika media massa dan partai politik adalah antek kapitalis dan perusahaan multinasional. Sedangkan orang konservatif menganggap akademisi dan elit adalah pihak yang mengontrol dua institusi tersebut.

Hasil dua survei di atas tentu sangat mengejutkan, dan membikin siapa saja bertanya-tanya. Kenapa orang bisa begitu percaya dengan teori konspirasi? Adakah penjelasan ilmiah di belakangnya?

Setelah berulang kali melakukan riset, para ilmuwan berhasil menemukan penyebab orang percaya teori konspirasi, yaitu ketidakmampuan manusia dalam mengontrol hidup mereka dan keinginan untuk tampil unik.

Karena manusia ingin mengontrol kehidupannya

raja hitam yang dikelilingi bidak-bidak catur
Sumber gambar: Pexels

Kepercayaan akan teori konspirasi adalah hal yang alami. Manusia terlahir dengan ‘bakat’ untuk mempercayai hal semacam itu. Inilah yang diutarakan Michael Shermer, sejarawan dan penulis sains.

Menurutnya kepercayaan akan konspirasi telah melekat dalam diri manusia sejak jaman dulu. Untuk menjelaskan fenomena ini, ia mengajukan analogi sederhana mengenai suara gemerisik yang datang dari semak-semak.

“Ketika kamu mendengar suara gemerisik dari semak-semak. Apakah itu binatang buas atau hanya angin lewat? Apa yang kamu putuskan akan berpengaruh besar kepada hidup kamu,” katanya, seperti dikutip dari Business Insider.

Jika kamu beranggapan itu adalah binatang buas, namun ternyata hanya angin lewat, nyawa kamu dipastikan aman. Kamu hanya salah mengartikan suara gemerisik itu saja.

Sekarang jika skenarionya di balik, di mana kamu menganggap suara itu akibat tipuan angin, namun kenyataannya berasal dari binatang buas yang tengah mengintai mangsa, apa yang akan terjadi? Jawabannya sederhana, hidupmu bakal berakhir saat itu juga.

Perasaan ketidakmampuan manusia mengontrol lingkungan dan kehidupannya membuat mereka mudah mempercayai konspirasi. Orang akan selalu menghubungkan titik-titik tertentu untuk menjelaskan sebuah peristiwa. Bahkan jika hal tersebut janggal dan tidak masuk akal.

Sebaliknya jika seseorang merasa memiliki kontrol atas hidupnya, mereka tidak akan mudah mempercayai konspirasi. Seperti yang berhasil diungkap melalui penelitian yang dipublikasikan di jurnal Applied Cognitive Psychology.

Penelitian yang dilakukan oleh Jan-Willem van Prooijen, profesor psikologi sosial dan organisasi di VU University Amsterdam, dan timnya ini melibatkan 119 orang. Para relawan tersebut kemudian dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama diminta untuk menuliskan momen ketika mereka merasa memiliki kontrol atas kehidupannya. Sedangkan kelompok yang satunya menuliskan saat-saat ketika mereka tidak memiliki kendali apapun.

Setelah itu, para peneliti mengamati sikap kedua kelompok tersebut mengenai kasus pembangunan gedung di Amsterdam yang tidak sengaja merusak pondasi rumah warga. Peristiwa ini diyakini merupakan sebuah konspirasi yang dilakukan dewan kota.

Hasilnya, kelompok pertama tidak mempercayai peristiwa ini sebagai konspirasi. Sebaliknya kelompok kedua malah mempercayai keberadaan konspirasi tersebut.

“Jika kamu memberikan perasaan kontrol kepada seseorang, maka mereka tidak akan mudah percaya konspirasi,” kata Prooijen.

Itulah kenapa konspirasi erat kaitannya dengan peristiwa yang terjadi akibat ketidakpastian, misalnya krisis finansial, serangan teroris, penyakit yang tidak dapat diobati, hingga kematian massal misterius. Situasi penuh kecemasan seperti inilah yang membuat orang-orang mempercayai adanya konspirasi.

“Orang-orang mulai menghubungkan titik-titik yang sebetulnya tidak terhubung,” tandasnya.

Sisi lain penggemar konspirasi yang mengejutkan!

tampil berbeda dengan kerumunan
Credit: Village9991

Sayangnya alasan orang percaya konspirasi tidak cuma keinginan untuk mengontrol hidup mereka. Baru-baru ini, sejumlah ilmuwan asal Grenoble Alps University menemukan sisi lain ‘penggemar konspirasi’. Jika ingin terlihat unik adalah penyebab orang percaya konspirasi!

Studi mengejutkan ini dimuat pada jurnal Social Psychology tahun 2017, seperti yang dilansir dari Psypost. Penelitian yang melibatkan seribu relawan ini menemukan jika para pendukung teori konspirasi beranggapan jika mereka memiliki informasi rahasia yang tidak dimiliki orang lain.

“Ketertarikan kita pada sesuatu yang tersembunyi, yang muncul dari kisah konspirasi, membawa kita kepada konsep kebutuhan akan keunikan”, kata Anthony Lantian, salah seorang peneliti.

Ia juga menambahkan jika orang-orang yang memiliki kebutuhan akan keunikan selalu mencari sesuatu, misalnya barang atau pakaian, agar dirinya terlihat unik. Dengan kata lain, memiliki informasi rahasia akan memenuhi kebutuhan mereka akan keunikan.

Para peneliti menemukan tiga bukti yang mendukung gagasan ini. Pertama pendukung konspirasi cenderung berpikir mereka memiliki informasi yang unik. Kedua, orang yang memiliki kebutuhan akan keunikan lebih mudah percaya konspirasi.

Terakhir yang ketiga, orang-orang yang didorong menjadi unik memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk percaya teori konspirasi. “Berpikir untuk mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain adalah cara untuk terlihat unik,” ungkap Lantian.

Ia juga mengakui jika penelitiannya sangat terbatas. Karena itu, Lantian menambahkan sedikit catatan mengenai penelitian semacam ini di masa depan. “Di masa depan, pertanyaan menarik yang perlu dijawab ialah menguji hubungan ini (konspirasi dan keunikan) dalam sistem budaya lain,” katanya.

Orang yang percaya konspirasi akan percaya konspirasi lainnya

konspirasi serangan teroris 9/11 pada dolar amerika serikat
Credit: raSains

Konspirasi itu ibarat lingkaran yang tiada berujung. Karena ketika orang sudah percaya, maka ia akan dengan mudah mempercayai konspirasi lainnya. Bahkan ketika ada dua konspirasi yang berkontradiksi.

Fakta ini berhasil diungkap dalam jurnal Social Psychological and Personality Science. Laporan tersebut memuat penelitian yang dilakukan psikolog University of Kent, Michael J. Wood, Karen M. Douglas dan Robbie M. Sutton, mengenai ‘lingkaran setan’ pendukung konspirasi.

“Saat kamu percaya ada konspirasi besar yang dapat tereksekusi dengan sempurna, maka hal ini menunjukan jika plot semacam ini mungkin dilakukan,” tulis mereka dalam makalahnya.

Paradigma semacam ini membuat konspirasi terdengar masuk akal. Bahkan ketika sejumlah teori konspirasi saling bertolak belakang. Misalnya saja ketika banyak orang percaya Osama bin Laden dibunuh tentara Amerika, di saat itu pula mereka percaya jika Osama masih hidup.


Video seputar konspirasi yang harus kamu tonton

Bagi yang lebih suka menonton video, kamu bisa menyaksikan sejumlah video menarik yang mengupas para pendukung konspirasi di bawah ini, mulai dari alasan mereka mempercayainya hingga kenapa teori konspirasi bisa begitu rasional.









Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar sosial dan politikragam, atau artikel lain dari raSains.

Credit gambar sampul: raSains.com

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »