Ternyata Ada Hujan Berlian di Uranus dan Neptunus

Foto planet Uranus dan Neptunus


raSains.com - Pernah membayangkan hujan uang? Tentunya kamu pernah meski hanya sekali. Betapa enaknya jika uang benar-benar jatuh ke Bumi. Sayangnya hujan uang adalah hal yang mustahil terjadi di Bumi. Namun tidak bagi Uranus dan Neptunus.

Hujan di kedua planet ini memang tidak berbentuk ‘mata uang’, melainkan berlian. Ya, batu permata yang mahal tersebut jatuh secara cuma-cuma dan dalam jumlah yang amat banyak. Percaya atau tidak, begitu yang diungkapkan oleh para ilmuwan.

Di balik birunya Neptunus dan Uranus

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar nama planet Neptunus dan Uranus? Dua buah planet berukuran raksasa berwarna biru kehijauan, Warna ini memang ciri khas kedua planet tersebut yang tidak dimiliki planet lain di Tata Surya kita. 

Warna ini pula yang menjadi penyebab fenomena turunnya hujan berlian. Namun tahukah kamu apa sebetulnya yang menyebabkan warna planet ini demikian?

Menurut para ilmuwan, warna unik ini tidak bisa dilepaskan dari kandungan atmosfer Uranus dan Neptunus. Pasalnya, selain hidrogen dan helium, kedua planet ini memiliki kandungan metana di dalam atmosfernya. 

Kandungan ini menyerap spektrum warna merah sinar matahari, dan memantulkan spektrum warna biru kehijauan. Inilah yang membuat warna kedua planet ini berwarna biru kehijauan.

Lalu apa hubungannya warna ini dengan turunnya hujan berlian di sana? Ternyata kandungan metana yang begitu banyak di atmosfer mampu menciptakan ‘butiran berlian’ ketika badai petir terjadi di awan. Pada saat itu, atom karbon akan terlepas dari ikatan kimianya dan ‘jatuh’ ke dasar atmosfer.

Suhu di atmosfernya sendiri begitu rendah, ratusan derajat Fahrenheit di bawah nol, namun ketika atom makin mendekati inti planet, tekanan dan temperatur bakal meningkat tajam. Tekanan yang begitu kuat inilah yang membuat atom karbon berubah menjadi solid. Banyaknya butiran berlian yang jatuh, membuat fenomena ini layaknya hujan.

Selama lebih dari tiga dekade, hubungan antara efek reaksi hidrokarbon dengan presipitasi berlian telah menjadi perbincangan panas di komunitas ilmuwan. Pasalnya keterbatasan teknologi belum memungkinkan manusia untuk mengamati langsung dua planet terluar ini.

Para ilmuwan hanya bisa menganalisanya dari foto citra satelit. Sehingga fenomena turunnya berlian di Uranus dan Neptunus masih sebatas teori. Namun setelah puluhan tahun teori ini terkatung-katung, akhirnya teori tersebut dapat dibuktikan pada Agustus 2017 lalu, yakni dengan membuat simulasi keadaan planet Uranus dan Neptunus untuk merekayasa ‘hujan berlian’.


Uji coba membuat hujan berlian

Kemilau kumpulan batu berlian
Sumber gambar: Pixabay

Rekayasa ini dilakukan di Laboratorium SLAC Stanford oleh tim yang beranggotakan ilmuwan internasional. Mereka mencoba menciptakan kondisi yang sangat panas dengan tekanan yang luar biasa berat seperti yang ada di Uranus dan Neptunus.

Tim menggunakan material khusus bernama polystyrene, pengganti hidrokarbon yang ada Uranus dan Neptunus. Materi tersebut lalu ditembak menggunakan sinar laser terkuat di dunia Linac Coherent Light Source (LCLS).

Tembakan ini membuat permukaan polystyrene melebar dan menghasilkan gelombang kejut. Di mana gelombang kejut pada percobaan kedua terjadi lebih cepat dibanding percobaan pertama. Tekanan dan panas yang dihasilkan dari eksperimen ini mencapai 5.000 K dan 150 GPa.

Di mana kondisi yang sama ditemukan pada 10.000 kilometer di bawah permukaan planet. Kondisi yang begitu ekstrim ini menyebabkan ikatan karbon dan hidrogen pecah, lalu karbon kembali bergabung menjadi berlian berukuran nanometer.

“Sebelumnya para peneliti hanya berasumsi terbentuknya berlian (di Uranus dan Neptunus),” kata Dominik Kraus, salah satu anggota tim dan ilmuwan di Helmholtz Zentrum Dresden-Rossendorf, seperti dikutip dari Guardian

“Ketika saya melihat hasil eksperimen, itu adalah salah satu momen terbaik sepanjang karir saya,” tambahnya.

Para ilmuwan juga dapat mengamati proses terbentuknya berlian menggunakan Sinar X. “Kamu benar-benar bisa melihat struktur atom berlian,” kata Dirk Gericke, salah satu anggota tim dan ilmuwan asal University of Warwick.

Meski berlian yang dihasilkan di laboratorium begitu kecil, namun para peneliti meyakini jika berlian di Uranus dan Neptunus berukuran lebih besar. Pasalnya kondisi kondisi ekstrim yang terjadi berlangsung hingga miliaran tahun, sehingga memungkinkan hal semacam ini terjadi.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar antariksa dan alam semesta atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: NASA's Marshall Space Flight Center

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
5 Oktober 2017 14.06 delete

wah... kalo bgitu bsok sya brngkt ksna deh cari berlianya =D

Reply
avatar