9 Peristiwa Dahsyat yang Akan Terjadi Ketika Matahari Mati

ilustrasi matahari dan bumi


raSains.com - Umur matahari sudah sepuluh miliar tahun lebih. Setidaknya bintang ini masih bisa bertahan lima sampai tujuh miliar tahun lagi. Setelah itu, matahari akan kehabisan hidrogen lalu padam.

Ketika matahari mati, apa yang akan terjadi dengan Tata Surya kita? Bagaimana dengan nasib Bumi, dan planet-planet lainnya? Pernahkah kamu memikirkan hal ini?

Ketika matahari padam, setidaknya bakal terjadi sembilan peristiwa dahsyat. Di antaranya yaitu kepunahan umat manusia di Bumi!

1. Efek rumah kaca makin menggila

Bumi dilihat dari luar angkasa
Credit: Beth Scupham

Efek rumah kaca adalah biang keladi pemanasan global. Di mana radiasi inframerah matahari yang seharusnya dipantulkan ke luar Bumi tertahan di awan, dan dikembalikan ke permukaan planet ini. Akibatnya, terjadi peningkatan suhu 1-5 Celcius.

Ketika matahari akan padam, efek rumah kaca yang mendera Bumi akan naik tajam. Penyebabnya adalah pancaran sinar matahari yang sangat terang. Berkali-kali lipat lebih terang dibanding saat ini.

Efeknya, kandungan metana, karbon dioksida, dan nitrat tidak bisa lagi membendung ‘teriknya’ sinar matahari. Suhu di Bumi pun meningkat sangat drastis.

Saking panasnya, sebagian besar air di permukaan Bumi bakal menguap ke atmosfer, menciptakan awan raksasa yang menyelubungi seluruh planet ini. Sedangkan sisanya, yang berupa air laut, akan mendidih dan membunuh semua makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.

2. Matahari akan membesar ratusan kali lipat

matahari dilihat dari dekat melalui satelit
Credit: NASA

Peningkatan kecerahan matahari juga diikuti dengan perubahan ukuran bintang ini, menjadi seratus kali lipat. Fase ini disebut sebagai Red Giant atau Raksasa Merah. Raksasa Merah merupakan fase kedua kematian bintang.

Fase ini terjadi ketika sebuah bintang telah kehabisan hidrogen, dan mulai memasuki tahap fusi hidrogen termonuklir di selubung intinya. Uniknya, meski ukuran matahari lebih besar pada fase ini, namun suhunya jauh lebih rendah.

Diperkirakan suhunya berkisar antara 3.000 hingga 4.000 Celcius. Bandingkan dengan suhu permukaan matahari ‘normal’ yang bisa mencapai 6.000 Celcius.

Yang harus kamu catat ialah tidak semua bintang akan mengalami fase ini. Jika ukurannya lebih kecil, bintang akan menjadi Katai Merah alih-alih Raksasa Merah. Sedangkan jika ukurannya sangat besar, bintang akan menghasilkan inti besi lalu meledak menjadi Supernova.

3. Matahari akan berubah ke bentuk akhir

katai putih yang merupakan bentuk akhir dari kematian matahari
Sumber gambar: Wikimedia

Setelah fase raksasa merah usai, matahari akan memasuki bentuk terakhirnya sebelum mati, yakni White Dwarf atau Katai Putih. Katai Putih adalah perubahan terakhir dari bintang dengan massa kecil dan menengah, seperti matahari.

Pada fase ini, bintang tidak lagi melakukan fusi, sehingga materi yang ada di sekitarnya tertarik oleh gravitasinya. Inilah kenapa matahari pada fase ini menjadi sangat padat, meski massanya masih sama. Sedangkan volume matahari sendiri ikut mengecil, menjadi seukuran Bumi.

Katai Putih akan bertahan hingga miliaran tahun. Setelah itu barulah matahari benar-benar padam, dan berubah menjadi Black Dwarf atau Katai Hitam. Para astronom sendiri belum bisa memprediksi kapan Katai Hitam akan muncul. Pasalnya umur alam semesta masih belum cukup tua hingga munculnya Katai Hitam.


4. Orbit Bumi dan planet lain bakal berubah

ilustrasi planet dan matahari yang ada di Tata Surya
Credit: NASA Blueshift

Pada fase raksasa merah, ukuran matahari bakal membesar. Jarak antara matahari dan Bumi juga kian ciut, hingga tersisa seperempatnya saja.

Di saat itu, kehidupan akan musnah di Bumi, namun tidak berarti planet ini hancur menjadi debu. Pasalnya gravitasi matahari akan mendorong Bumi dan planet lainnya menjauh. Sayangnya, tidak semua planet bakal 'selamat'.

Merkurius dan Venus yang letaknya paling dekat dari matahari bakal ditelan raksasa merah. Pasalnya jarak kedua planet ini dengan matahari terlalu dekat. 

5. Muncul kehidupan di luar Bumi

kehidupan di luar bumi
Credit: mcscrooge54

Kehidupan di Bumi boleh saja punah akibat teriknya sinar matahari. Sebaliknya di luar sana bakal muncul sejumlah tempat yang bisa mendukung keberadaan makhluk hidup, meski hanya berupa mikro organisme.

Dua satelit milik Jupiter, Ganymede dan Europa, adalah lokasi yang paling sesuai untuk hadirnya kehidupan. Pasalnya kedua satelit tersebut memiliki es dalam jumlah yang besar. Bahkan menurut sejumlah ilmuwan, Europa diduga memiliki lautan di balik lapisan esnya.

Ketika sinar matahari meningkat berkali-kali lipat, es yang ada di kedua satelit Jupiter tersebut bakal mencair. Di mana hal ini akan menyokong munculnya kehidupan baru.

6. Planet terjauh dari sistem Tata Surya bakal mencicipi sinar matahari

foto planet pluto dari citra satelit
Sumber gambar: Wikimedia

Fase raksasa merah tidak hanya berdampak bagi Bumi saja, namun juga planet-planet terluar Tata Surya. Pasalnya kecerahan matahari pada fase ini mampu menjangkaunya. Misalnya saja planet Pluto yang letaknya paling jauh dari pusat Tata Surya.

Planet kecil yang diselimuti es abadi ini bakal merasakan kehangatan matahari untuk pertama dan terakhir kalinya. Di mana suhu planet ini bakal  naik drastis yang bakal menyebabkan mencairnya lapisan es.

Namun proses ini belum tentu mampu memicu kehidupan baru di sini. Pasalnya harus ada sejumlah kondisi yang dipenuhi sebelum itu terjadi. Yang jelas, planet ini bakal menjadi salah satu saksi bisu sinar matahari yang terakhir kalinya, sebelum bintang ini mati sepenuhnya.

7. Tidak akan ada lagi kehidupan di Bumi

ilustrasi bumi yang terbakar akibat pemanasan global
Sumber gambar: Pixabay

Matinya matahari berarti kiamat bagi seluruh makhluk yang ada di Bumi. Kepunahan ini dimulai sejak fase raksasa merah. Di mana pada fase ini kecerahan matahari bakal memanggang semua yang ada di planet ini tanpa terkecuali.

Seandainya manusia dapat mengembangkan teknologi anti panas, mereka bakal dilanda bencana kelaparan akibat rusaknya rantai makanan. Apakah bencana akibat kematian matahari hanya sampai di sini?

Seandainya manusia mampu bertahan, maka jutaan tahun kemudian suhu Bumi akan turun dan permukaannya bakal membeku selamanya.

8. Saatnya manusia meninggalkan Bumi

peluncuran pesawat luar angkasa
Sumber gambar: Pexels

Apakah umat manusia bisa selamat dari ‘kiamat’ yang diakibatkan matinya matahari? Kemungkinan besar bisa. Kita memang tidak bisa membayangkan kemajuan teknologi di masa depan, namun perjalanan ke luar angkasa bukanlah hal yang mustahil.

Cikal bakalnya sudah bisa kita lihat hari ini, yaitu dengan proyek koloni Mars yang digagas Elon Musk. Bahkan Uni Emirat Arab juga berambisi membangun sebuah kota di Mars pada 2117.

Oleh karena itu, tidak aneh jika jutaan tahun lagi manusia bisa membuat koloni di luar angkasa atau bahkan meninggalkan Galaksi Bima Sakti.

9. Perubahan di sabuk asteroid

foto kumpulan asteroid di luar angkasa
Credit: Kristian Fagerstrom

Tidak hanya planet saja yang bakal menghadapi masalah ketika matahari mati, namun juga asteroid yang berada di antara Jupiter dengan Mars. Pasalnya gravitasi Jupiter yang luar biasa kuat bakal mendorong sebagian asteroid ke luar Tata Surya.

Sisanya, bakal terlempar ke arah matahari yang tengah sekarat. Para ilmuwan memprediksi jika asteroid-asteroid ini akan hancur menjadi debu, seperti yang terjadi pada Katai Putih di galaksi lain.

****

Itulah sembilan peristiwa dahsyat yang bakal terjadi ketika matahari mati. Untungnya semua itu baru akan terjadi miliaran tahun lagi.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar antariksa dan alam semesta atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Robert A.

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »