10 Karakter Game of Thrones dengan Gangguan Kejiwaan Menurut Psikolog



raSains.com - Siapa karakter favorit kamu di Game of Thrones? Tyrion Lannister, Jon Snow, atau Arya Stark? Tiap karakter memang memiliki daya tarik masing-masing. Perkembangan mental mereka terlihat sangat alami dari satu musim ke musim yang lain.

Namun pernahkah kamu membayangkan, apa jadinya jika para karakter 'fiksi' Game of Thrones bertandang ke psikolog dan psikiatri? Kira-kira apa yang akan ahli kejiwaan katakan mengenai kondisi kejiwaan mereka? Awas penuh spoiler!

1. Ramsay Bolton



Diagnosis: Sadistic Personality Disorder dan Sexual Sadism Disorder

Ramsay merupakan tokoh paling sadis di Game of Thrones. Kekejamannya bahkan melebihi Joffrey Baratheon. Bayangkan, ia tega membunuh ayahnya, dan mengumpankan ibu tiri beserta saudara tirinya yang masih bayi kepada anjing-anjing pelihara annya..

Tidak cuma itu, ia juga senang berburu manusia dan menguliti musuh-musuhnya. Menurut Dr Honda Kirk, kesenangan yang didapatkan Ramsay dari menyiksa orang lain adalah gejala dari sadistic personality disorder.

Mendapatkan kenikmatan dengan menyiksa orang lain,” tuturnya

Selain itu, Ramsay juga memiliki sexual sadism disorder, gairah seksual yang muncul sebagai respon rasa sakit atau penghinaan terhadap orang lain. Lihat saja bagaimana cara Ramsay menghabiskan malam pertamanya dengan Sansa Stark.

Lalu kenapa kesehatan mental Ramsay bisa bermasalah seperti ini? Jawaban menarik dikemukakan oleh Janina Scarlet, PhD, profesor di California School of Professional Psychology, yang dimuat di blog Alliant International University.

Menurutnya gangguan kejiwaan Ramsay diakibatkan trauma mendalam karena terlahir sebagai anak haram. Ditambah lagi ayahnya tidak benar-benar mencintai dirinya.

“(Ini membuat) Keterikatan emosional menjadi sesuatu yang benar-benar asing baginya,” kata Dr Scarlet.

2. Theon Greyjoy


Diagnosis: Narcissistic Personality Disorder, Dissociative Disorder, dan Stockholm Syndrome

Theon sejak kecil ditawan oleh House Stark, setelah pemberontakan ayahnya, Balon Greyjoy, berhasil dipadamkan. Ia tumbuh besar bersama anak-anak Stark, namun bukan bagian dari mereka. Inilah yang menyebabkan Theon berhasrat untuk membuktikan kemampuannya.

Setelah mengkhianati Stark, ia ditangkap Ramsay Bolton. Disiksa habis-habisan dan dikebiri. Peristiwa ini meninggalkan trauma yang mendalam dalam dirinya. Akibatnya jati dirinya sebagai Theon ‘hilang’, dan digantikan identitas baru bernama Reek.

Latar belakang ini membuat kondisi kejiwaan Theon sangat unik. Sejak awal cerita, calon penguasa Iron Island ini telah mengidap gangguan narcissistic personality disorder. Ia memandang dirinya begitu istimewa, melampaui orang-orang di sekitarnya.

Tidak ada kata lemah dan payah di dalam kamusnya. Selalu ingin terlihat superior. Itulah kenapa ia mengeksekusi Ser Rodrick Cassel di depan anak buahnya. Agar mereka mau mengakui kepemimpinannya.

Namun di tengah jalan, kepribadian narsistik itu pudar. Identitasnya berubah menjadi Reek, kacung Ramsay yang penurut. Perubahan identitas ini adalah gejala dari dissociative disorder (dikenal juga sebagai multiple personality disorder).

Dissociative disorder adalah kelainan mental yang ditandai kepemilikan sejumlah kepribadian. Masing-masing kepribadian memiliki memiliki ingatan, pola pikir, dan perilaku yang berbeda. Penyebabnya adalah trauma ekstrim yang terjadi berulang kali. Dalam kasus Theon yaitu pengebirian yang dilakukan Ramsay.

Uniknya, Reek juga mengalami stockholm syndrome. Sindrom ini membuat seorang sandera memiliki ikatan emosional dengan penculiknya. Semacam loyalitas penuh (dalam beberapa kasus berbentuk 'cinta') tanpa menghiraukan resiko dan bahaya yang akan dihadapinya.

3. Joffrey Baratheon


Diagnosis: Antisocial Personality Disorder

Kamu pasti salah satu dari sekian juta pembenci Joffrey. Raja muda Seven Kingdom ini memang tokoh yang paling dibenci di Game of Thrones. Tidak heran jika kematiannya di musim ke empat disambut meriah oleh penonton.

Penyebabnya adalah watak Joffrey yang kejam dan arogan. Ia sangat suka menyiksa orang lain. Misalnya saja dengan mempertontonkan kepala Eddard 'Ned' Stark yang terpancung kepada Sansa. Sembari berbisik jika kakaknya bakal mengalami nasib yang sama.

Ia juga gemar menyiksa Tyrion, pamannya yang cebol, setelah dirinya naik tahta. Salah satunya dengan mengadakan pertunjukan orang-orang cebol saat digelarnya resepsi pernikahan Joffrey dengan Margaery Tyrell.

Lalu bagaimana diagnosis kejiwaan tokoh ini?

Menurut Dr. Kirk Honda, Joffrey mengidap gangguan jiwa antisocial personality disorder, kecenderungan seseorang menyiksa siapa saja di sekitarnya tanpa ada rasa penyesalan.

Hanya diagnosis ini belum berlaku, mengingat umurnya kurang dari delapan belas tahun. Karena itu Joffrey hanya ‘ditandai’ conduct disorder. Label ini adalah ‘bendera merah’ yang disematkan kepada anak-anak dengan masalah emosi dan penyimpangan perilaku yang serius.

Dr. Honda juga menambahkan, jika kelainan mental Joffrey tidak bisa dilepaskan dari perangai buruk ayahnya, serta trauma akibat konflik kedua orang tuanya. Trauma ini makin kuat berkat bisikan ibunya yang selalu mengatakan dirinya lebih hebat dibanding orang lain.

4. Cersei Lannister


Diagnosis: Narcissistic Personality Disorder dan Antisocial Personality Disorder

Cersei adalah istri Raja Robert Baratheon. Sayang, pernikahan mereka tidak semulus orang kira. Robert kerap bermain dengan pelacur, sementara Cersei menjalin hubungan terlarang dengan kakak kembarnya, Jeime Lannister.

Dari hubungan gelap ini Cersei dikaruniai tiga orang anak, yakni Joffrey, Myrcella, dan Tommen. Sekilas ia terlihat begitu mencintai Jeimi dan anak-anaknya, namun dalam kenyataannya tidaklah demikian.

Cersei tidak benar-benar mencintai mereka, melainkan dirinya sendiri. Kembarannya merupakan representasi dari sosok yang menyerupai dirinya. Sebuah cinta yang sempurna dari seorang narsisitik.

Itu sebabnya Cersei tidak berduka dengan kematian Tommen. Karena di pikirannya hanya ada dirinya dan orang lain. Antara Cersei dan bukan Cersei. Ketika Tommen memilih Margery dan High Sparrow, maka ia bukan lagi bagian dari Cersei.

Di sisi lain, Cersei memiliki hasrat yang luar biasa akan kekuasaan, kesuksesan dan kejayaan. Ia tidak akan mempermasalahkan latar belakang siapapun, asalkan mereka bisa membantunya meraih kekuasaan.

Ia berwatak kejam, penuh manipulasi, dan menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuannya. Tanda-tanda dari kecenderungan anti social personality disorder.

Menurut Dr. Honda, gangguan yang dialami Cersei sedikit berbeda dengan Ramsay dan Joffrey. “Ia dikelilingi oleh kekuasaan, keadaan inilah yang menimbulkan sifat psikopat dalam diri Cersei, bukan karena pribadinya,” ungkapnya.

Usaha mendapatkan kekuasaannya dipandang sebagai sebuah tindakan untuk melindungi diri di tengah masyarakat patriarki. “Sebuah usaha untuk bertahan hidup dari perspektifnya,” ujar Dr. Honda.

5. Sandor Clegane alias The Hound


Diagnosis: Post-Traumatic Stress Disorder dan Alcohol Use Disorder

Mantan pengawal pribadi Joffrey ini adalah petarung yang handal. Ia berhasil selamat melewati berbagai pertarungan dan peperangan. Meski akhirnya harus menelan pil pahit, kalah oleh Brienne Tart.

The Hound memiliki masa lalu yang suram. Bekas luka bakar di wajahnya adalah buktinya. Bagaimana ia mengalami kekerasan dari kakaknya, The Mountain. Sementara itu ayahnya tidak menunjukan reaksi simpati atas kejadian mengerikan tersebut. Clegane yang malang.

Peristiwa buruk ini memicu gangguan emosional ekstrim setiap kali Clegane berhadapan dengan api. Sebuah gejala dari post-traumatic stress disorder, gangguan kecemasan parah yang diakibatkan peristiwa psikologis..

“Ketika Clegane menghadapi api, ia selalu menunjukan gejala PTSD,” kata Dr. Honda dalam podcast

Selain itu, Clegane juga didiagnosis mengidap alcohol use disorder. Baginya, minum alkohol adalah bentuk pelarian dari masalah serta sarana menenangkan emosi. Kecanduan alkohol memang lumrah ditemui pada pasien post traumatic stress disorder.

6. Tyrion Lannister


Diagnosis: Substance Abuse Disorder

Tyrion adalah salah satu orang paling berbahaya di Westeros. Ia seorang politisi ulung. Kekurangan fisiknya berhasil ditutupi dengan kecerdikannya. Pantas sekiranya Tyrion didapuk sebagai tangan kanan Daenerys.

Kemampuannya memegang kekuasaan juga diakui oleh ayahnya, Tywin Lannister. Itulah sebabnya ia dipercaya mengurusi ibukota sebagai Hand of The King. Sayangnya Tywin masih memandang rendah Tryrion karena terlahir cacat.

Orang-orang di sekitarnya juga kerap melecehkan Tyrion dengan menjulukinya ‘The Imp’. Hidupnya yang keras membuat Tyrion memiliki masalah substance use disorder, kelainan penggunaan ‘substansi’ tertentu yang mengarah pada gangguan klinis. Dalam hal ini yaitu alkohol dan wanita.

“Dia mengonsumsi alkohol untuk mengubah suasana hatinya yang tengah dirundung masalah, termasuk dengan bermain wanita,” kata Jordan, konselor kesehatan Mental, dikutip dari MTV.

7. Jon Snow


Diagnosis: Seasonal Affective Disorder

Jon Snow adalah putra Lyana Stark yang identitasnya disamarkan Ned Stark sebagai anak haramnya. Ia diperlakukan dengan baik oleh ayah palsunya, namun tidak disukai oleh Catelyn Stark, istri Ned. 

Karena merasa sebagai ‘orang luar’, Jon memutuskan ikut pamannya bergabung menjadi anggota Night Watch.

Kesehatan mental Jon tidak separah tokoh lainnya. Ia hanya memiliki gangguan mental ringan seasonal affective disorder, gangguan kejiwaaan yang selalu muncul di waktu yang sama setiap tahun. Biasanya ditandai depresi, putus asa, dan merasa cemas.

“Lihat wajahnya, itu adalah gejala depresi,” tutur Jordan. “Mungkin terjadi secara musiman.”

Menurut Jordan, Jon telah mengalami banyak kehilangan. Ditambah lagi ia tinggal jauh dari rumah, di Utara yang dingin. Lebih dari cukup untuk memicu depresi ringan.

8. Arya Stark


Diagnosis: Post-Traumatic Stress Disorder

Arya adalah anak ketiga dari pasangan Eddard Stark dan Catelyn Stark. Ia tumbuh sebagai gadis tomboy yang periang. Lebih suka belajar bertarung dibanding menyulam dan menari.

Sayang, kehidupannya tidak berjalan mulus. Ia harus menyaksikan orang-orang berharga di sekitarnya tewas terbunuh. Orang yang pertama adalah ayahnya yang dieksekusi Joffrey. Disusul teman-temannya. Semua itu dia alami mulai dari umur sebelas tahun!

Pengalaman-pengalaman ini jelas meninggalkan trauma mendalam dalam diri Arya. Tandanya yaitu kesulitan tidur, jika ia belum menyelesaikan ‘daftar kematian’. Sekilas, perilaku ini terlihat seperti gejala obsessive-compulsive disorder, namun menurut Jordan tidaklah demikian.

“Ini hanyalah rutinitas sebelum tidur,” kata Jordan. “Sama seperti kebiasaan orang Barat mendengarkan dongeng sebelum pergi ke ranjang.”

Dalam kasus Arya, rutinitas ‘daftar kematian’ adalah bagian dari dari post-traumatic stress disorder. Sebuah mode bertahan hidup setelah mengalami berbagai pengalaman mengerikan.

Relasinya dengan The Hound adalah ikatan yang unik. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang saling menguntungkan. Sebuah cara melindungi diri mereka dari pemicu trauma. Saat bersama Clegane, otak Arya akan mengganti mode bertahan hidupnya. Membuatnya menjadi lebih lunak.

9. Petyr ‘Littlefinger’ Baelish


Diagnosis: Antisocial Personality Disorder

Cerdas, kalem karimatik. Itulah gambaran dari mantan Master of Coin dan pemilik rumah bordil terkemuka di ibukota Seven Kingdom. Namun siapa sangka jika dialah pemicu perang antara Stark dengan Lannister?

Tingkat kecerdasannya dapat disandingkan dengan Tyrion. Menjadikan dirinya sebagai salah satu orang paling berbahaya di Westeros. Apalagi tidak ada yang tahu tujuan aslinya. Satu hal yang pasti, ia tidak segan-segan membunuh, mengkhianati, dan memanipulasi orang lain untuk meraihnya.

Perilaku semacam ini adalah indikasi dari antisocial personality disorder. Gangguan kejiwaan ini membuat Baelish kurang peduli dengan orang lain. Dia memandang orang di sekitarnya sebagai alat yang dapat digunakan dan dibuang kapan saja, seperti yang dialami oleh Lysa Tully.

Di mana Baelish memanfaatkan Lysa untuk membunuh suaminya, agar Ned Stark naik menjadi Hand of The King. Setelah berhasil menjebak Ned, ia lalu menikahi Lysa, yang kemudian ia bunuh dengan menjatuhkannya ke Moon Door.

10. Daenerys Targaryen


Diagnosis: Justice dan Courage

Masa lalu yang suram juga dimiliki sang ibu para naga. Sejak kecil, ia sudah yatim piatu. Keluarganya yang tersisa hanyalah kakaknya yang kejam, Viserys. Ini membuat dirinya tumbuh menjadi sosok yang lemah dan pemalu.

Bahkan ia hanya bisa pasrah ketika Khal Drogo menikahinya. Setelah pernikahan tersebut berakhir, perkembangan karakter ini langsung melesat. Daenerys, yang dulunya lemah, kini berubah menjadi sosok yang kuat dan pemberani.

Jonathan Fader, Ph.D., seorang psikolog dan asisten profesor di Albert Einstein College of Medicine, menuliskan analisa menarik mengenai sosok Daenerys Targaryan di Psychology Today. Menurutnya kondisi kejiwaan Daenerys adalah yang paling sulit dianalisa.

Alasannya karena kondisi jiwanya paling stabil, jika dibandingkan dengan karakter Game of Thrones yang lain. Untuk menganalisa tokoh ini, Fander menggunakan panduan tersendiri yang dimuat di Character Strengths and Virtues Handbook.

Dari sana, ia berhasil mendiagnosis Daenerys memiliki Justice dan Courage. Justice adalah sifat-sifat positif yang meliputi kepemimpinan dan keadilan. Sedangkan Courage terdiri atas ketekukan, kejujuran, keberanian.

****

Analisis psikologi di atas bisa saja meleset. Mengingat pikiran manusia begitu rumit. Apalagi diagnosis didasarkan pada sejumlah fakta yang muncul dalam film. Tanpa ada proses wawancara untuk mendalami kejiwaaan mereka.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar sains atau artikel lain dari raSains.

Credit foto sampul: raSains

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar