10 Cara Efektif Melatih Anjing Berdasarkan Pendekatan Psikologi

anak anjing yang menggigit tali karena ingin jalan-jalan


raSains.com - Punya anjing di rumah memang menyenangkan. Ia bisa menjadi teman bermain sekaligus penjaga. Namun sang pemilik harus meluangkan waktu untuk melatihnya. Agar peliharaan kesayangan kamu ini memiliki perilaku yang positif.

Sayangnya melatih anjing itu susah-susah gampang. Kamu perlu kesabaran ekstra untuk mengulangi satu trik hingga anjing kamu memahaminya. Jika belum paham, maka kamu perlu mengulanginya terus. Benar-benar harus sabar kan?

Bagi kamu yang kesulitan melatih anjing, atau baru memelihara anak anjing untuk pertama kalinya, kamu bisa mencoba sepuluh metode berikut. Metode-metode ini menggunakan pendekatan psikologi untuk memaksimalkan hasil latihan.


1. Melatih anak anjing dengan metode klasik Pavlov

empat ekor anak anjing lucu sedang mengamati biskuit
Credit: Pexels

Pendekatan Pavlov dapat diuraikan ke dalam dua kata, yakni stimulus dan respon. Metode ini pertama kali diuji coba kepada anjing. Setelah sukses, baru digunakan kepada manusia. Metode klasik ini sangat efektif untuk mengubah perilaku, karena itu sangat cocok digunakan kepada anak anjing.

Lalu bagaimana cara mengaplikasikannya? Caranya cukup sederhana. Misalnya kamu ingin melatih si doggie agar tidak kencing sembarangan. Setiap kamu melihat tanda-tanda si doggie kebelet buang air kecil, segeralah bawa ia keluar.

Jangan lupa berikan kode khusus tiap kali anjing kamu melakukannya. Kamu bisa menggunakan suara lonceng ataupun perintah ‘buang air kecil di luar’ sebagai kodenya. Lakukan ini berulang kali setiap anjing kamu ingin kencing.

Hasilnya, tiap kamu berikan stimulus ‘kencing di luar’, maka anjing kamu akan merespon dengan pergi keluar rumah. Metode ini juga berlaku untuk melatih anjing agar tidak buang air besar sembarangan. Tertarik untuk mencobanya?


2. Bikin anjing kamu penurut dengan teori kebutuhan Maslow

melatih anjing bersalaman dengan orang
Credit: Pexels

Kamu pasti pernah mendengar konsep 'piramida' hirarki kebutuhan Maslow. Entah di sekolah maupun di internet. Teori ini membagi kebutuhan manusia ke dalam sejumlah tingkatan. Dengan puncak piramidanya adalah kebutuhan aktualisasi diri, dan bagian dasarnya adalah kebutuhan fisiologis.

Aplikasi teori ini dalam pelatihan anjing sebetulnya tidak jauh berbeda dengan teori klasik Pavlov. Namun pertama-tama, kamu harus mengerti kebutuhan dasar setiap binatang, yakni makan, minum, dan kesenangan. Setelah mengetahuinya, kamu tinggal memanfaatkan ‘kebutuhan tersebut’ agar si doggie menjadi penurut.

Misalnya kamu ingin si doggie belajar duduk. Tiap kali ia menuruti perintahmu, berikan dia hadiah. Bisa berupa makanan, elusan di kepala, atau sekedar pujian. Namun jika anjing kamu tidak mau duduk, maka jangan beri ia hadiah. Lakukan berulang kali dan si doggie bakal menuruti apa yang kamu katakan.


3. Si doggie malas belajar? Jangan beri dia hukuman!

seekor anjing putih yang merasa bosan belajar
Credit: Pexels

Lho, kok bisa? Bukannya hukuman membuat anjing mematuhi perintah kamu? Ya, memang benar, namun ini hanya berlaku untuk jangka pendek saja. Sedangkan jangka panjangnya, anjing kamu bakal malas belajar. Ia bakal memilih ‘kucing-kucingan’ setiap kali melakukan hal yang negatif.

Apakah efeknya hanya itu? Ternyata tidak! Berdasarkan laporan yang dimuat di NCBI, melatih anjing menggunakan metode hukuman adalah pilihan yang buruk. Dalam penelitian tersebut terungkap, jika latihan menggunakan training collar remote ternyata membuat peliharaan kesayangan kamu ini merasa tertekan.

Ditambah lagi, hasil latihan dengan training collar remote tidak lebih baik dibanding metode mengarahkan perilaku. Kalau begitu, bagaimana cara melatih anjing yang efektif tanpa memberikannya hukuman? Jawabannya dengan menggunakan teori Tolman.


4. Teori Edward Chace Tolman dan pembelajaran laten

melatih anjing di taman
Credit: Dmitriy K.

Ide yang paling menarik dari teori Tolman yaitu keberadaan pembelajaran laten (latent learning). Singkatnya, pembelajaraan laten adalah efek belajar yang tersembunyi hingga kamu memberikannya penguatan.

Eksperimen teori Tolman sangat populer. Kamu pasti juga pernah mendengarnya. Eksperimen ini melibatkan dua ekor tikur yang dimasukan ke dalam labirin yang berbeda. Pada labirin yang pertama, Tolman menaruh makanan di pintu keluarnya, sedangkan di labirin kedua tidak terdapat apa-apa.

Di hari kesepuluh, tikus di labirin pertama berhasil keluar dalam waktu yang lebih singkat. Dari sinilah ia menyadari jika keberhasilan tikus pertama tidak bisa dilepaskan dari pembelajaran tersembunyi.

Setelah kamu mengetahui garis besar teorinya, sekarang kamu tinggal menerapkannya ke dalam pelatihan anjing. Misalnya saja kamu ingin melatih anjing penjaga yang akan menyalak kepada orang yang tidak dikenal.

Langkah pertama yaitu memberikan kode untuk menggonggong dan diam. Langkah selanjutnya adalah memberikan apresiasi setiap si doggie menuruti apa yang kamu katakan. 

Lakukan hal ini berulang kali hingga anjing kamu mau menggonggong meski tanpa hadiah. Jika sudah sampai tahap ini, artinya anjing kamu sudah berhasil ‘belajar laten’ jadi anjing penjaga.


5. Alternatif hadiah buat si doggie itu penting

seorang anak perempuan memeluk anjing miliknya
Credit: Pexels

Seperti yang telah dibahas di atas, hadiah memegang peran yang vital dalam proses pelatihan anjing. Oleh karena itu, kamu perlu memberagamkan hadiah yang akan diberikan. Jadi tidak hanya melulu makanan, namun juga hal lain, seperti pujian ‘anjing pintar’ ataupun elusan ringan di kepalanya.

Kenapa kamu harus melakukan hal ini? Alasannya adalah untuk menghindari penurunan nilai hadiah. Setiap kali kamu memberikan hadiah yang sama, misalnya makanan, maka lama kelamaan nilai hadiah tersebut akan menurun di mata si doggie

Selain itu, hadiah berupa makanan juga berakibat buruk bagi kesehatan peliharaan kamu. Pastinya kamu tidak ingin punya anjing gembrot kan? 


6. Manfaatkan penguatan negatif untuk mengembangkan perilaku positif

anak anjing terbalut selimut berwarna cokelat
Credit: Pexels

Kamu juga bisa kok memanfaatkan penguatan negatif si doggie sebagai latihan. Pendekatan ini sama efektifnya dengan metode mengarahkan perilaku. Misalnya kamu ingin melatih anak anjing yang tidak mau ditinggal sendirian di rumah.

Caranya dengan meninggalkan si doggie di kamar sendirian selama sepuluh hingga lima belas menit. Ingat, jangan masuk ke kamar meski anjing kamu menyalak. Setelah waktu yang ditentukan habis, barulah kamu bisa masuk.

Jangan lupa untuk membuat variasi waktu. Tujuannya agar si doggie menyadari rentang waktu yang berbeda-beda ketika ditinggal sendirian. Dengan begitu, sedikit demi sedikit anjing kamu bakal belajar membiasakan diri.


7. Biarkan anak anjing belajar kepada anjing yang lebih tua

dua ekor anjing sedang bersosialisasi di taman
Credit: Pexels

Lihat, amati, dan terapkan. Gagasan ini telah dirangkum oleh Albert Bandura ke dalam teori kognitif sosial. Menurut Bandura, setiap manusia dapat belajar dari mengamati perilaku orang lain. Kabar baiknya, hal ini juga berlaku bagi anjing!

Karena itu, menggunakan anjing tua yang telah terlatih sebagai ‘mentor’ bagi anak anjing adalah pilihan yang bijak. Caranya dengan memberikan perintah tertentu pada anjing yang lebih tua, misalnya perintah duduk, dan biarkan anak anjing yang ingin kamu latih memperhatikan gerak-geriknya.

Namun sebelum kamu melakukan hal ini, ada empat hal yang perlu dicatat yaitu:

  • Pilihlah tempat yang tenang untuk latihan.
  • Pastikan anak anjing kamu benar-benar mengingat setiap pelajaran dengan memastikan perhatiannya kepada mentor.
  • Jangan berharap mendapatkan hasil yang cepat.
  • Jangan menambahkan mentor baru, sebelum anak anjing kamu benar-benar belajar dari mentor lawas.



8. Maksimalkan latihan dengan reinforcement schedule 

seekor anjing sedang bermain frisbee di halaman rumah
Credit: Pexels

Sampai sejauh ini kamu telah memahami penerapan sejumlah pendekatan psikologi ke dalam pelatihan anjing. Kini, giliran kamu memaksimalkannya dengan menggunakan reinforcement schedule yang termasuk ke dalam aliran behavioristik.

Berdasarkan laporan yang dimuat di Scientific America, reinforcement schedule dapat membantu anjing kamu memahami perintah dengan lebih spesifik. Dengan kata lain, latihan ini akan mengurangi kemungkinan kesalahpahaman perintah sekaligus meningkatkan kepatuhannya. Selain itu, teknik ini juga dapat melatih anjing kamu menguasai perintah yang lebih kompleks.

Metode ini memanfaatkan sejumlah perintah, sekurang-kurangnya tiga macam, misalnya perintah duduk, berdiri dan menggongong. Berikan perintah ini secara berurutan kepada si doggie. Ketika ia berhasil menyelesaikan ketiganya, berikan anjing kamu hadiah.

Namun pastikan tidak memberikan apapun ketika si doggie baru melakukan perintah pertama atau kedua. Ini bertujuan agar anjing kamu mengasosiasikan hadiah dengan tiga perintah. Sehingga memudahkan kamu mengembangkan kemampuannya.

Kamu tidak perlu memaksakan tiga perintah jika anjing kamu belum siap. Cukup kombinasikan dua perintah saja, dan tingkatkan menjadi tiga ketika waktunya telah tiba.

9. Melatih perilaku yang lebih sulit dengan metode shaping

seekor anjing akan mengambil foto menggunakan kamera DSLR
Credit: U.S Army

Metode ini sebetulnya hampir sama dengan reinforcement schedule. Bedanya, shaping lebih menekankan pada penguatan respon terhadap stimulus. Pendekatan ini dicetuskan oleh seorang psikolog berkebangsaan Amerika bernama B. F. Skinner.

Lalu bagaimana mengaplikasikan shaping ke dalam pelatihan anjing? Kamu cukup melatihnya melompati halang rintang. Mulailah dengan menaruh rintangan tepat di atas tanah, dan perintahkan si doggie melompatinya.

Setiap kali anjing kamu berhasil, berikan hadiah dan naikan ketinggian rintangan tersebut. Lakukan hal ini terus menerus. Frekuensi kesulitan yang berubah ubah akan membuat anjing kamu terus melakukan trik ini walaupun kamu tidak memberikannya hadiah.


10. Trik menganalisa perilaku anjing

siluet anjing dan pemiliknya di pantai saat senja
Credit: Pexels

Di metode terakhir ini, kamu akan belajar bagaimana cara menganalisa perilaku anjing dengan mudah. Caranya dengan menggunakan analisa behavior. Teknik ini juga biasa diterapkan untuk menganalisa penderita autisme.

Bagaimana cara menggunakannya? Cukup bawa anjing kamu untuk bersosialisasi. Perhatikan bagaimana responnya terhadap anjing lain. Berikan hadiah jika ia menunjukan perilaku positif, namun jangan menghukumnya jika ia melakukan perilaku negatif. Cukup mencatatnya saja.

Jika kamu mendapatkan catatan yang cukup, kamu akan bisa membaca pola-pola psikologi dari anjing kamu. Hasil ini bisa kamu jadikan rekomendasi bahan latihan selanjutnya.


****

Sepuluh metode di atas berlaku untuk semua jenis anjing, mulai dari Pitbull, Golden Retriever, hingga anjing kampung. Kamu bisa memilih salah satu metode latihan ataupun mengombinasikannya. Sesuaikan saja dengan kemajuan latihan peliharaan kesayangan kamu.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar flora dan faunadan alam semesta atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Pexels

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »