Membedah Hoax: Kenapa Orang Percaya dan Suka Membagikannya

ilustrasi berita hoax dengan stempel bertuliskan fake news


raSains.comHoax adalah hal yang buruk. Penuh kebohongan dan menyesatkan. Namun masalah yang lebih buruk adalah banyak orang yang mempercayainya. Bahkan mereka tidak segan membagikannya di media sosial.

Fenomena semacam ini mencemaskan sekaligus mengerikan. Meski sebetulnya bukan hal yang baru dalam peradaban manusia. Internet hanya mengubahnya menjadi sangat buruk. Lebih buruk dari bayangan siapapun. 


Sang 'anak haram' jurnalisme 

Apa itu hoax? Secara harafiah, hoax berarti kabar bohong. Sebuah informasi yang tidak sesuai dengan aslinya. Misalnya saja kamu melaporkan pencurian yang tidak pernah terjadi ke polisi. Laporan kamu disebut sebagai hoax.

Contoh lainnya yaitu screenshot chat yang telah diedit sedemikian rupa, sehingga tidak sesuai dengan aslinya. Ini juga dikategorikan sebagai hoax.

Sejarah awal hoax tidak begitu jelas, karena hoax berasal perkembangan cerita dan gosip. Sejauh ini, hoax tertua yang pernah tercatat dalam sejarah yaitu tentang Drummer of Tedworth pada tahun 1661.

Kabar bohong ini memuat laporan mengenai seorang tuan tanah bernama John Mompesson. Ia menggungat drummer bernama William Drury karena memberikan kesaksian palsu sebagai ganjaran sejumlah uang.

Hakim pun memenangkan gugatan Mompesson, dan memberikan drum milik Drury kepadanya. Bukannya untung, kehidupan Mompesson malah bertambah buruk. Setiap malam, dari rumahnya selalu terdengar suara drum. Konon, suara tersebut berasal dari drum milik Drury yang telah dikutuk.

jurnalis televisi dan jurnalis foto
Credit: Pixabay

Sedangkan hoax dalam bentuk berita di internet merupakan jenis dari jurnalisme kuning (yellow jurnalism), kadang juga disebut sebagai koran kuning (yellow press). Hoax semacam ini dikenal juga sebagai berita palsu atau bohong (fake news).

Berdasarkan catatan sejarah, istilah jurnalisme kuning berasal dari pertengahan tahun 1980. Ketika itu, dua koran besar di Amerika Serikat, New York Journal dan New York World, tengah terlibat perang sirkulasi.

Untuk meraih pembaca, kedua koran tersebut kerap menurunkan judul berita yang sensasional, meski tetap mengikuti kaidah jurnalistik. Kata 'kuning' berasal dari warna tinta yang digunakan kedua koran tersebut.

Menurut Frank Luther Mott, jurnalis dan sejarawan Amerika, ada lima kategori dari berita palsu, yakni ukuran judul headline yang sangat besar, menggunakan gambar atau foto yang 'mewah', mengutip sumber yang tidak terpercaya bahkan kadang palsu, suplemen koran yang biasanya berupa komik, dan 'menjual' simpati orang-orang yang 'kalah' oleh sistem.

Singkatnya, berita palsu selalu memuat isu-isu kontroversional, namun tidak dibarengi dengan sumber data yang kredibel. Tujuannya adalah meningkatkan oplah.

Kehadiran internet membuat penyebaran berita palsu semakin mengerikan. Jika dulu hanya koran saja yang bisa melakukannya, kini siapapun bisa menyebarkannya. Cukup bermodalkan blog gratisan dari Google.

Ciri-cirinya lebih kurang sama dengan jurnalisme kuning, yakni memuat isu penuh kontroversi yang dibalut dengan judul yang mengundang klik (click bait). Tujuannya yaitu meningkatkan pengunjung situs dan penghasilan dari iklan.

Karena itu, jika kamu menemukan judul berita semacam, “Gila! Pria Ini Nekat Minum Soda Kadaluarsa Selama Lima Tahun. Hasilnya? Pasti Bikin Kamu Kaget!” maka dipastikan itu adalah hoax. Jangan terpancing mengkliknya.

Kenapa banyak orang mudah percaya hoax?

deretan domino berwarna hitam
Credit: Pixabay

Coba cek di sekeliling kamu, adakah teman kamu yang suka membagikan berita hoax terutama di media sosial? Pasti ada, entah itu satu atau dua orang. Pasti kamu pernah berpikir, kok bisa mereka membagikan berita yang jelas-jelas hoax.

Bahkan rela mati-matian membela informasi yang salah kaprah tersebut. Kadang mereka sampai mendebat orang yang mengkritisinya. Hal ini pasti membuat kamu bertanya-tanya, apa sebenarnya yang melatarbelakangi tindakan mereka?

Kerelaan seseorang dalam mempercayai berita bohong tidak bisa dilepaskan dari apa yang mereka  percayai. Di mana sebuah fakta akan ditolak jika tidak sesuai dengan apa yang mereka yakini. Fenomena ini dikenal sebagai ‘ketidaksesuaian kognitif’.

Orang pertama yang meneliti fenomena tersebut adalah seorang psikolog bernama Leon Festinger. Ia menganalisa perilaku The Seeker, sekelompok orang yang percaya adanya UFO yang akan menyelamatkan mereka dari kiamat tahun 1995.

Ketika kiamat tidak terjadi, kepercayaan mereka tetap tidak goyah. Pandangan mereka tidak berubah sedikitpun. Bahkan mereka lebih giat merekrut anggota baru. Dari sinilah ia mengambil kesimpulan mengenai 'ketidaksesuaian kognitif'.

Menurut Michel Shermer, penulis The Believing Brain, dalam wawancaranya dengan Huffington Post, ‘ketidaksesuaian kognitif’ juga bisa disebabkan keyakinan mengenai politik, agama, dan hal lain yang bisa mendefinisikan identitas seseorang.

Alasan kepercayaan politik disandingkan dengan keyakinan agama karena dampaknya begitu besar. Apalagi untuk mengubah keduanya, bukan perkara yang mudah.

Pasalnya ketika seseorang mengubah pandangan politik, secara tidak langsung identitas mereka juga turut berubah. Hal ini ditekankan oleh Dr. Jonas Kaplan, psikolog di USC’s Barin dan Cretivity Insitute.

“Pandangan politik sama seperti agama, merupakan bagian yang mendefinisikan identitas seseorang,” ungkap Kaplan.

Menariknya, hasil penelitian Kaplan yang dimuat di Nature menunjukan adanya perubahan bagian otak ketika pandangan politik seseorang diserang. Bagian otak yang berubah berhubungan dengan identitas personal dan emosi.

Keyakinan ini berdampak pada situs dan informasi yang mereka konsumsi. Berdasarkan riset yang dimuat di jurnal Media Pyschology, para pembaca online menganggap situs berita yang dibacanya merupakan representasi dirinya.

Sayangnya pandangan mengenai bias informasi akibat ‘ketidaksesuaian kognitif’ memiliki satu kelemahan utama, yakni tidak mampu menjelaskan alasan orang percaya berita hoax yang tidak terkait dengan kepercayaan apapun.

Misalnya hoax penculikan anak yang sempat menghebohkan masyarakat Indonesia di awal tahun 2016. Menurut kabar yang beredar, para korban akan diambil organnya untuk dijual oleh para penculik.

Akibat isu ini, satu orang gila tewas diamuk massa akibat dicurigai sebagai penculik. Setelah ditelusuri, pihak polisi menyatakan isu penculikan anak adalah hoax. Pelaku penyebarannya diduga satu kelompok dan terorganisir.

Untuk menjelaskan fenomena ini, S. Syam Sumdar, co-director dari Media Effects Research Laboratory, Pennsylvania State University, menawarkan pandangan lain. Berdasarkan analisisnya yang dimuat di The Conversation, alasan orang percaya berita hoax disebabkan pola konsumsi media online. 

Di mana para pembaca berita online kurang peduli terhadap sumber data yang terpercaya. Akibatnya mereka kesulitan memilah mana situs berita yang terpercaya, dan mana yang tidak.

Berdasarkan penelitian muridnya mengenai news agregator, Sumdar dan muridnya menemukan perilaku pembaca berita online yang unik. Di mana para pembaca lebih menyukai berita yang direkomendasikan orang lain, ketimbang yang dipilih oleh editor. Bahkan berita hasil pencarian dianggap lebih kredibel daripada pilihan editor.

Bagaimana berita hoax menyebar? 

alur penyebaran informasi di era internet
Credit: Pixabay

Seberapa cepat berita bohong menyebar? Lalu bagaimana prosesnya penyebarannya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita akan mengupas kasus Eric Tucker, seorang co-founder perusahaan marketing dengan follower Twitter hanya empat puluh orang.

Seperti dilansir dari New York Times, kasus ini bermula dari tweet Tucker mengenai pendemo bayaran yang memprotes Presiden Trump pada 9 November. Ia mengaitkan aksi protes di hari tersebut dengan foto sejumlah bus yang ia jepret pada hari sebelumnya.

Padahal bus-bus tersebut sedang disewa oleh Tableau Software. Setidaknya tiga belas ribu karyawan mereka menjadi penumpang bus milik Coach USA North America.

Beberapa jam kemudian, tepatnya pada pukul 12.49, tweet ini diposting ulang di situs Reddit dengan judul yang sedikit bombastis. Postingan ini menuai tiga ratus komentar dalam waktu singkat.

Paginya, pada 10 November, seorang pengguna Free Republic, forum diskusi konservatif, ikut menyebarkan tweet hoax milik Tucker. Dari sinilah berita hoax ini menyebar luas. Sejumlah fanspage Facebook, terutama yang berafiliasi dengan Trump, langsung membagikan tautan diskusi ini di halaman mereka.

Dalam tempo singkat, setidaknya lebih dari lima ribu orang turut membagikan tautannya, dan lebih dari tiga ratus ribu pengguna Facebook mengunjung situs Free Republic.

Kegemparan di dunia maya ini membuat seorang reporter Fox menelepon Sean Hughes, humas perusahaan bus Coach USA North America. Kepada jurnalis tersebut, Hughes menyatakan dengan tegas bahwa penyewa busnya tidak memiliki kaitan apapun dengan demonstrasi anti Trump.

Ia bahkan sempat tweet perihal ini di akun Twitter miliknya, dan direspon dengan lima ribu retweet. Tidak lebih, tidak kurang. Respon yang minim, jika dibandingkan dengan yang didapatkan blog konservatif Gateway Pundit yang memuat tweet hoax Tucker.

Artikel Gateway Pundit tersebut mendapatkan respon yang luar biasa. Terbukti dari banyaknya orang yang sukarela membagikannya di akun Facebook mereka. Berdasarkan statistik situs, tercatat empat puluh ribu orang ikut berbagi artikel tersebut.

Puncaknya, pada pukul 09.00, calon presiden Donald Trump menanggapi tweet hoax Tucker. Ia mengatakan bahwa aksi protes bayaran dan hasutan media adalah sebuah ketidakadilan. Tingginya respon netizen membuat Tucker mempertimbangkan untuk menghapus tweet miliknya.

Keesokan harinya, 11 November, Dorea Jerman, juru bicara Tubleau, tampil di media lokal KVUE untuk mengklarifikasi isu demo bayaran yang makin liar. Media The American-Statesmen langsung mempublikasikan berita ini di situs mereka.

Pada pukul 14.00, Tucker membagikan tautan blognya yang membahas demo bayaran anti Trump di Twitter, sekaligus kontroversi tweet miliknya yang dimuat di Free Republic.

Selang dua belas jam kemudian, Tucker menghapus tweet hoax miliknya dan mengunggah screenshot tweet tersebut dengan stempel FALSE. Namun respon yang diberikan netizen sangat minim. 

Tweet klarifikasi ini hanya mendapatkan 29 retweet dan 27 like. Jumlah yang sangat sedikit untuk isu yang menjadi trending topik. Sementara follower akun Twitternya naik menjadi 960 orang.

Beredarnya hoax dari sebuah tweet sebenarnya bukan hal yang mengherankan. Menurut Michel Shermer, hoax berwujud teks merupakan perkembangan lebih lanjut dari gosip dan cerita yang beredar lewat mulut ke mulut.

Gosip dan cerita merupakan sarana paling tua dalam menyebarkan informasi. Sejumlah studi menunjukan, orang-orang jaman dahulu suka sekali bergosip. Pasalnya melalui gosip, mereka dapat mengetahui siapa kawan siapa lawan. Dengan kata lain, gosip merupakan sebuah metode untuk melindungi diri.

Pernyataan Shermer tersebut merupakan penjelasan di balik fenomena tweet hoax pendemo bayaran Trump. Bagaimana setiap orang terus menerus membagikan informasinya, namun tidak ada yang tertarik mengkonfirmasi kebenarannya kepada Tucker.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar sosial dan politik, ragam, atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Pixabay

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »