Benarkah Cinta itu Buta? Begini Penjelasan Ilmiahnya

apakah cinta itu buta?

raSains.com - “Kalau cinta sudah melekat, tai kucing terasa cokelat.” Kutipan ini pertama kali diperkenalkan Gombloh, dan sampai sekarang masih populer. Artinya pun begitu gamblang: orang yang tengah jatuh cinta itu benar-benar buta.

Dalam benak kamu, orang yang kamu cintai adalah sosok yang begitu sempurna. Tanpa cela sedikitpun. Bahkan kamu rela membela habis-habisan orang yang kamu cintai dari kritik orang lain. Begitu butanya orang yang tengah jatuh cinta.

Namun apa sebenarnya yang membuat orang yang tengah dimabuk cinta seperti ini? Seakan-akan akal mereka turut lenyap bersama datangnya perasaan indah itu?

Kenapa kita jatuh cinta?

apakah cinta itu buta?
Credit: HAMZA BUTT

Pertanyaan ini kerap terngiang di benak banyak orang. Mengapa manusia bisa jatuh cinta? Apakah cinta buta itu benar-benar ada atau hanya mitos saja?

Dr. Andreas Barlets dan Profesor Semir Zaki, dua orang neurolog asal Univeristy College, London, berhasil menguak misteri tersebut melalui penelitian mereka. Seperti yang dituturkan kepada Vanguard, alasan kenapa orang jatuh cinta ialah untuk menghindarkan umat manusia dari kepunahan.

Penelitian ini melibatkan 22 perempuan yang sudah berkeluarga. Mereka akan diperlihatkan berbagai macam foto, mulai dari foto anaknya, teman dekat, hingga pasangan mereka. Kemudian peneliti memantau setiap perubahan aktivitas otak yang terjadi.

Hasilnya terdapat perubahan pada aktivitas otak mereka. Di mana ketika ditunjukan foto anaknya, bagian otak yang berhubungan dengan emosi negatif otomatis ‘dimatikan’. Efeknya, emosi negatif seperti rasa takut ataupun agresif dapat ditekan.

Sedangkan ketika ditunjukan foto pasangannya, bagian otak prefrontal cortex lah yang ‘dimatikan’. Bagian ini berfungsi untuk menilai seseorang, apakah dia adalah orang yang dapat dipercaya atau tidak, perasaan diskriminasi, dan bentuk kecurigaan lainnya.

Dimatikannya bagian otak tertentu merupakan penyebab utama kenapa cinta itu buta. Cinta memastikan manusia memiliki pasangan, yang pada akhirnya membuat mereka menghasilkan keturunan. Begitu juga dengan cinta orang tua kepada anaknya yang bertujuan agar sang anak tumbuh dengan baik dan berhasil memiliki keturunan di masa depan.

Penelitian ini juga melaporkan hal yang menarik yaitu ketika cinta mulai reda, kamu bisa menilai pasanganmu dengan lebih obyektif. Baik kelebihan maupun kekurangannya. Lalu apakah ini pertanda akhir sebuah hubungan?

Jatuh cinta yang sebenarnya

apakah cinta itu buta?
Credit: Christopher

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Social Science Research, Spencer James berhasil mengungkap hilangnya perasaan 'cinta' dengan pasangan merupakan babak baru dalam sebuah hubungan.

Pada awal hubungan, dikenal sebagai fase bulan madu (honeymoon phase), orang yang jatuh cinta sangat tergila-gila dengan pasangannya. Di matamu, pasangan kamu adalah sosok yang begitu sempurna.

Namun ketika kamu sudah menjalin hubungan, dengan perlahan fase bulan madu ikut berlalu. Kamu bakal menyadari jika tawanya tidak semerdu yang diduga, dia juga memiliki sisi-sisi yang menyebalkan yang luput kamu perhatikan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan New York Univeristy, fase bulan madu dapat bertahan hingga tiga puluh bulan. Setelah itu, kadar cinta akan berkurang sedikit demi sedikit. 

Bukan berarti mereka sudah tidak saling mencintai, namun mereka tengah memasuki jenis cinta yang lebih dalam. Di mana terdapat komitmen dan keintiman yang menyertainya. Dengan kata lain, kadar cinta antara pasangan baru dan lama sebenarnya sama. Hanya bentuknya yang terlihat berbeda. 

Bagi yang penasaran soal fase bulan madu, kamu bisa menonton video dari DNews di bawah ini. Kamu bakal tahu lebih banyak mengenai fase unik yang dialami semua manusia.


****

Jadi sudah tahu kan kenapa cinta itu buta? Ya, agar kita, umat manusia, tidak punah. Jadi jangan takut jatuh cinta, apalagi sampai trauma.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar sains atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Natia Kolava

raSains.com hanya menyediakan konten unik berkualitas.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

3 komentar

Write komentar
13 Mei 2017 17.08 delete

wah teori yang relevan, ane kira cuma mitos doang :v

Reply
avatar
13 Mei 2017 18.28 delete

Analisisnya detail nih bro, jadinya gw makin paham thanks ya

Reply
avatar