Artikel Pilihan

Sains

Teknologi

Recent Posts

Ganja vs Alkohol: Mana yang Lebih Buruk Menurut Sains?



raSains.com - Ganja dan alkohol, mana menurut kamu yang lebih buruk bagi kesehatan? Mungkin kamu menjawab ganja, atau bisa juga alkohol. Sayangnya jawaban pertanyaan ini jauh lebih rumit dibanding yang kamu kira.

Pasalnya penelitian mengenai ganja terbilang minim karena dianggap ilegal di banyak negara. Beda halnya dengan alkohol yang telah diteliti bertahun-tahun yang lalu. Ditambah lagi efek keduanya bergantung pada banyak faktor, misalnya pola penggunaan dan jangka waktu pemakaian.

Meski begitu kamu masih bisa mengetahui mana yang lebih buruk bagi kesehatan dengan membandingkan sejumlah efek dari penggunaan ganja dan alkohol di bawah ini:

1. Alkohol dan ganja, mana yang lebih membuat kecanduan?

Sumber gambar: Pixabay

Sebagai salah satu jenis narkoba, kamu mungkin mengira ganjalah yang paling membikin orang ketagihan. Sayangnya hal ini tidak benar. Dikutip dari Scientific American, survei besar-besaran yang dilakukan ahli epidemologi James Anthony menemukan fakta jika tingkat kecanduan ganja berada di bawah rokok dan alkohol.

Berdasarkan data yang didapatkan Anthony, 9 persen orang yang pertama kali memakai ganja dinyatakan bebas dari kecanduan. Berbanding terbalik dengan alkohol yang mencapai 15 persen dan rokok tembakau yang sebesar 32 persen.

Bahkan jika dibandingkan narkoba jenis lain, tingkat kecanduan ganja jauh lebih rendah. Misalnya saja persentase kecanduan kokain yang mencapai 17 persen, serta heroin yang sebesar 23 persen.

2. Alkohol lebih ramah bagi jantung dibanding ganja

Sumber gambar: Pexels

Salah satu efek positif alkohol yaitu mengurangi resiko serangan jantung. Dengan catatan, kamu meminumnya dalam takaran yang tepat. Pasalnya takaran alkohol yang pas dapat memperlambat kerja jantung yang pada ujungnya mengurangi resiko serangan jantung.

Fakta ini didapatkan dari temuan Brigham and Women's Hospital pada 84.000 perempuan yang rutin mengonsumsi alkohol dalam takaran kecil (setengah hingga satu gelas setiap hari). Di mana para peneliti menemukan fakta jika perempuan-perempuan tersebut memiliki resiko serangan jantung yang lebih rendah.

Sebaliknya penggunaan ganja malah meningkatkan kerja jantung. Sayangnya data efek peningkatan kerja jantung ini masih belum memadai. Pasalnya sampai saat ini, studi mengenai hubungan ganja dan serangan jantung masih sangat minim.

Meski begitu, konsumsi alkohol dalam takaran yang tinggi dalam waktu yang singkat jauh lebih berbahaya dibanding ganja. “Kamu dapat tewas lima menit setelah pesta alkohol. Tapi ini tidak berlaku kepada mariyuana. Efek penggunaannya lebih halus,” kata Ruben Baler, ilmuwan dari National Institute on Drug Abuse, seperti dikutip dari Live Science.

3. Dalam jangka panjang, alkohol dapat menyebabkan kanker

Sumber gambar: Pexels

Bagi kamu yang suka minum alkohol dalam takaran yang tinggi, ada baiknya segera kurangi. Pasalnya dalam jangka panjang, kebiasaan buruk ini dapat mengakibatkan penyakit kanker.

Menurut Gary Murray dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, kebiasaan minum alkohol dalam takaran yang besar dapat menyebabkan penyakit hati alkoholik yang bakal berkembang menjadi kanker hati.

“Saya menekankan ‘bisa’,” kata Murray.

Lalu bagaimana dengan ganja? Hubungan merokok ganja dengan kanker paru-paru dinyatakan tidak ada. Pada studi awal, para ilmuwan memang menemukan sejumlah bukti. Namun pada penelitian selanjutnya bukti-bukti tersebut ditolak.

Hal ini jelas bertolak belakang dengan penelitian mengenai hubungan rokok tembakau dengan kanker paru-paru.  Menurut Ruben Baler, alasan efek merokok mariyuana tidak sama dengan tembakau kurang begitu jelas. Kemungkinan ada senyawa dalam ganja yang membatalkan efek tersebut atau bisa juga disebabkan perilaku kesehatan pemakai ganja yang berbeda.

Namun hal ini tidak berarti merokok ganja benar-benar aman. Berdasarkan laporan dari National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, merokok ganja dapat menyebabkan bronkitis akut. Apalagi jika intensitasnya tinggi.

4. Perbandingan resiko kecelakaan saat menyetir antara alkohol dan ganja

Sumber gambar: Pexels

Menyetir mobil saat mabuk alkohol memiliki potensi kecelakaan yang lebih tinggi dibanding dengan teler ganja. Pasalnya kandungan HTC (zat psikoaktif dalam ganja) tidak meningkatkan resiko kecelakaan.

Sedangkan persentase peningkatan resiko kecelakaan naik menjadi 83 persen. Bertolak belakang dengan alkohol, di mana 0,05 kandungan alkohol dalam darah mampu meningkatkan kecelakaan hingga 575 persen.

Bagaimana jika menggunakan alkohol dan ganja dalam waktu bersamaan? Menurut laporan yang dirilis di American Jpurnal of Addiction, ternyata resikonya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mengonsumsinya sendiri-sendiri. 

5.  Alkohol berbahaya bagi ibu hamil

Sumber gambar: Pixabay

Bagi ibu hamil, hindari meminum alkohol. Karena alkohol dapat membahayakan perkembangan janin, terutama pada minggu-minggu awal kehamilan. Jika nekat mengonsumsi alkohol, ada kemungkinan bayi kamu bakal mengalami FASDs (fetal alcohol spectrum disorders) yang terdiri atas disabilitas fisik, mental, dan perilaku anak.

“Setiap perempuan yang ingin hamil dan sedang hamil pasti mengharapkan bayi yang sehat. Tapi mereka tidak sadar jika minum alkohol pada tahap awal kehamilan dapat menyebabkan kecacatan pada anak mereka,” kata Coleen Boyle Ph.D., direktur CDC’s National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities.

Lalu apakah mengonsumsi mariyuana tidak masalah? Ternyata tidak. Meski ata penunjang masih minim, namun sejumlah penelitian awal menemukan jika kandungan HTC dapat menembus ke rahim, dan dapat menggangu perkembangan otak, kognisi, dan berat badan sang buah hati.

"Ada sejumlah pandangan, menggunakan ganja itu aman, bahkan ketika hamil, tanpa data yang menunjukan jika hal tersebut benar-benar aman," kata Dr. Torri Metz, dokter kandungan di Denver Health Medical Center, seperti dikutip dari New York Times.

6. Alkohol dekat dengan kekerasan dibanding ganja

Sumber gambar: Pixabay

Gambaran alkohol yang lekat dengan kekerasan dalam film tidaklah salah. Kekerasan yang dipicu oleh alkohol memang sangat tinggi, lebih tinggi dari ganja ataupun narkoba.

Berdasarkan data yang dibeberkan National Council on Alcoholism and Drug Dependence, hampir 40 persen kasus kekerasan dipicu minuman beralkohol. Bahkan menurut data yang dikumpulkan Department of Justice Amerika Serikat, 37 persen pelaku kejahatan di negeri Paman Sam ditangkap saat mereka minum alkohol.

Data lain yang dihimpun Bureau of Justice Statistics menunjukan alkohol sebagai biang keladi kasus kekerasan domestik. Di mana kekerasan rumah tangga yang dipicu alkohol mencapai 55 persen, sedangkan narkoba hanya 9 persen.

Sebaliknya potensi kekerasan yang dilakukan pengguna ganja jauh lebih rendah. Berdasarkan penelitian yang dimuat di NCBI diketahui kekerasan domestik yang dilakukan pemakai ganja jauh lebih rendah, bahkan ketika dibandingkan dengan meraka yang tidak menggunakan ganja.

7. Alkohol dan ganja berdampak buruk bagi ingatan kita

Sumber gambar: Pixabay

Ganja dan alkohol sama-sama berdampak buruk bagi ingatan. Baik efek temporer dan jangka panjang. Misalnya untuk efek temporer, pengguna ganja dan alkoholik akan mengalami kesulitan mengingat. Bahkan efek ini dapat berlangsung hingga beberapa minggu untuk pengguna ganja.

Sedangkan efek jangka panjangnya, alkoholik bakal mengalami penurunan daya ingat, kesulitan berkonsentrasi, dan kurangnya proses emosional dan sosial kognisi. Efek lainnya yang perlu diperhatikan yaitu mengecilnya otak.

Bagian otak yang mengalami hal ini adalah lobus frontal yang bertanggung jawab atas intelejensi. Pengecilan ini akan semakin parah seiring bertambahnya usia. Meski begitu, penemuan ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Sementara efek jangka panjang bagi perokok ganja yaitu mengalami gangguan ingatan verbal. Dengan catatan, penggunaan ganja sudah dilakukan sejak masa remaja.

8. Ganja dan alkohol dapat menimbulkan gangguan mental

Sumber gambar: Pixabay

Ganja dan alkohol tidak hanya berdampak pada tubuh manusia, namun juga kesehatan jiwa mereka. Berdasarkan studi yang dipublikasikan di The National of Academies of Sciences Engineering Medicine, ditemukan sejumlah bukti hubungan antara intensitas merokok ganja dan gangguan jiwa schizophrenia dan psikosis.

Namun hubungan antara ganja dan schizophrenia jauh lebih rumit. Menurut Matthew Hill, seorang ahli biologi sel di University of Calgary, efek ganja terhadap gangguan jiwa masih diperdebatkan oleh sejumlah ilmuwan.

“Hanya sedikit bukti penggunaan ganja pada masa remaja dapat menyebabkan gangguan jiwa,” ujar Hill, seperti dikutip dari The Verge. “Namun bagi populasi yang beresiko tinggi, penggunaan ganja bakal merugikan.”

Ia juga menambahkan jika efek ganja dapat berbeda-beda pada individu. “Ada sejumlah studi yang menunjukan ganja dapat memiliki efek yang berbeda pada otak individu yang beresiko terkena schizophrenia dan yang tidak,” katanya.

Sementara itu, para peminum alkohol memiliki resiko menderita kecemasan dan depresi. Dikutip dari situs Royal College of Psychiatris, konsumsi alkohol dapat berefek pada otak yang ujung-ujungnya menimbulkan depresi.

Tidak cuma itu saja, kebiasaan mabuk-mabukan juga dapat menyebabkan siklus bangun tidur menjadi cemas, sakit,  dan gelisah. Jika kebiasaan ini terus berlanjut dalam jangka panjang, maka peminum alkohol dapat mengidap gangguan psikosis (mendengar suara ketika tidak ada siapa-siapa).

9. Interaksi dengan obat-obatan

Sumber gambar: Pixabay

Jangan sekali-kali mengkombinasikan alkohol dan obat. Karena nyawa kamu jadi taruhannya. Banyak kasus kematian yang terjadi akibat interaksi alkohol dan obat, terutama obat tidur dan penenang.

Menurut Nora Volkow, direktur National Institute on Drug Abuse, kombinasi obat pereda penenang dengan alkohol adalah yang paling mematikan. Karena keduanya dapat memperlambat pernapasan dan menghilangkan refleks batuk yang pada ujungnya dapat mengakibatkan kesulitan bernapas.

Bagaimana dengan ganja? Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai interaksi mematikan antara ganja dengan obat-obatan. Namun ini tidak berarti ganja aman. Karena masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menyatakan ganja bebas dari interaksi obat.

10. Alkohol bikin gemuk, ganja bikin lapar

Sumber gambar: Pixabay

Salah satu efek yang langsung dirasakan pemakai ganja yaitu rasa lapar. Bahkan ketika kamu sebetulnya sudah kenyang, senyawa dalam ganja akan menipu otak kamu sehingga kamu merasa lapar.

Seperti yang kamu tahu, makan berlebih dapat menimbulkan penumpukan lemak. Namun khusus untuk ini, hal itu tidak berlaku. Ya, makan berlebih akibat pemakaian ganja tidak akan membuat kamu gemuk.

Dalam survei yang dilakukan NESARC dan NCS terhadap 52.000 penduduk Amerika Serikat, diketahui jika 22 persen orang yang tidak merokok mengidap obesitas, sedangkan 14 persen yang rutin menggunakan ganja tidak mengalami obesitas.

Pada survei kedua, hasil yang didapatkan juga hampir sama. Di mana 25 persen yang tidak menggunakan ganja mengalami obesitas dan 17 persen pengguna ganja bebas dari obesitas. Hasil survei ini diperkuat oleh  penelitian mengenai efek THC (Tetra Hydro Cannabinol, bahan psikoaktif utama dalam ganja), yang membantu proses diet.

Bagaimana dengan alkohol? Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di NCBI, alkohol memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan ebrat badan. Pasalnya mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan energi, dan pada gilirannya menambah berat badan.

Apalagi alkohol mengandung kalori yang lumayan banyak. Sebagai gambaran, dalam satu kaleng bir terdapat kurang lebih 150 kalori, sedangkan satu gelas wine memiliki sekitar 120 kalori. Sekarang bayangkan jika kamu minum tiga sampai empat gelas wine, berapa kalori yang masuk ke dalam tubuh kamu? Banyak kan?

Kesimpulan sementara

Berdasarkan perbandingan kecanduan, resiko jangka panjang, hingga kematian di atas, dapat disimpulkan jika alkohol jauh lebih berbahaya bagi kesehatan dibanding ganja. Apalagi mendapatkan alkohol bukan perkara yang sukar.

Di Indonesia sendiri alkohol masih bisa dibeli di sejumlah tempat, misalnya supermarket hingga tempat hiburan malam, sedangkan membeli ganja hampir tidak mungkin seleluasa ini mengingat sifatnya yang ilegal.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar kesehatan atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Anthony Tenorio

Berlin-Ichthyosaur Park: Kota Hantu yang Penuh Fosil Dinosaurus

foto kota hantu dan mobil dari abad 18 di Berlin-Ichthyosaur Park  di Nevada


raSains.com - Berlin-Ichthyosaur Park, dari namanya kamu mungkin menebak lokasi kota hantu ini berada di sekitar Berlin. Setidaknya masih di negara Inggris. Sayangnya tebakan ini salah, karena Berlin-Ichthyosaur Park berada di Nevada, Amerika Serikat. Kaget kan?

Nama Berlin-Ichthyosaur Park merupakan gabungan dari kata Berlin dan Ichthyosaur. Berlin sendiri merujuk pada tambang tua yang ada di kota tersebut, sedangkan Ichthyosaur berasal dari fosil dinosaurus yang ditemukan di sana.

Sisa-sisa sejarah tersebut adalah daya tarik utama destinasi wisata ini. Di tempat ini, kamu bakal berpetualang menembus waktu, dimulai dari jaman prasejarah saat para dinosaurus tinggal hingga era demam emas yang melanda Amerika Serikat ratusan tahun silam. Tertarik berkunjung kemari?

Kota hantu yang (dulu) kaya akan emas


Kisah tempat wisata ini dimulai sejak bulan Mei tahun 1863. Pada tahun tersebut, sekolompok pencari emas berhasil menemukan perak di Union Canyon. Lalu didirikanlah tambang kecil-kecilan untuk mendulang mineral berharga di sana.

Di tahun yang sama pula para penambang membangun distrik khusus yang terdiri atas Union, Lone, Grantsville, dan Berlin. Meski begitu, proses pertambangan besar-besaran baru dimulai tiga puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1896.

Klaim kandungan emas dan perak yang banyak di sana berhasil menggaet ratusan orang untuk datang ke Union Canyon. Sehingga dalam waktu singkat, kota tersebut berkembang pesat. Berdasarkan situs resmi Nevada State Park, total emas yang ditambang dari 3 mil terowongan ditaksir sebesar $849.000.000. Dengan harga emas saat itu sekitar $20 per ons.

Namun seiring cadangan emas yang makin menipis, distrik ini mulai ditinggalkan penduduknya. Mereka pergi untuk mencari lokasi tambang emas baru lainnya. Terhitung sejak tahun 1911, kota ini ‘resmi’ menjadi kota mati.

Wisata masa lampau yang sayang untuk dilewatkan

Toko pandai besi alias blacksmith abad ke 18 di Amerika Serikat
Sumber gambar: Nevada State Parks


Kekayaan sejarah di Berlin masih bisa kamu nikmati. Aneka bangunan kuno khas abad ke delapan belas masih dipelihara dengan baik, mulai dari pabrik pengolahan bijih, toko pandai besi, rumah warga, toko, dan bangunan lainnya.

Pengunjung juga diperbolehkan untuk memasuki sejumlah bangunan. Rasakan bagaimana kehidupan di Barat yang liar. Sayangnya tidak semua bangunan boleh dimasuki, beberapa di antaranya hanya diperbolehkan dipandang dari kaca jendela.

Meski begitu, keterangan pada setiap bangunan dapat memberikan gambaran sejarah mengenai kondisi Kota Berlin pada masa lampau. Semua keterangan di sini berasal dari kenangan Firmin Bruner yang dulu pernah menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kota Berlin.

Setelah kamu puas berkeliling, kini saat kamu mengunjungi Tambang Diana, dikenal juga dengan nama Terowongan Walter Bowler. Tambang bawah tanah ini memiliki panjang hingga 1.200 kaki. Di sini kamu bisa mendapati berbagai peralatan tambang kuno yang pernah digunakan oleh para pencari emas.

Keadannya masih sangat bagus, persis seperti baru ditinggalkan kemarin. Beberapa hal yang bisa kamu saksikan yaitu gerobak untuk mengangkut bijih, stope (ruangan atau tempat di mana endapan biji ditambang), winze (lubang yang menghubungkan level di atas dengan di bawahnya, hingga vein (tempat di mana mineralisasi menyerupai pipa atau urat), dan lain sebagainya.

Sayangnya karena tempatnya terbatas, kamu perlu melakukan reservasi untuk bisa tour keliling ke dalam Tambang Diana. Biaya tournya sebesar $3 (sekitar Rp40.000). Namun jangan kecewa dulu, karena tambang bagian atas terbuka selama 24 jam selama setahun penuh.

Dengan kata lain, kamu bisa menjajal uji nyali saat malam tiba. Apalagi pengelola juga menyediakan area untuk berkemah. Agar uji nyali lebih seru, kamu bisa memakai headlamp untuk mendapatkan suasana yang dirasakan para penambang emas.

ilustrasi dinosaurus laut jaman purba Ichthyosaur dan Plesiosaur
Ilustrasi Ichthyosaur (kiri) dan Plesiosaur (kanan). Sumber gambar: Wikimedia

Setelah kamu puas menikmati ‘sejarah manusia’ yang tertoreh di sini, kini saatnya kamu pergi ke jaman dinosarus dengan mengunjung rumah fosil. Di sana kamu bisa mendapati fosil makhluk purba Ichthyosaur.

Dinosaurus ini hidup di laut sekitar Nevada pada jaman prasejarah. Bentuknya menyerupai lumba-lumba dengan moncong yang lebih panjang. Moncong panjangnya berguna untuk menangkap moluska yang menjadi makanan utama Ichthyosaur.

Sedangkan panjang cukup bervariasi, mulai dari dua hingga lima puluh kaki (sekitar 0,5 meter hingga 15 meter). Fosil dinosaurus ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Siemon Mueller pada tahun 1928. Ketika itu ia tidak sengaja mengamati bukit di atas Kota Berlin yang tererosi secara alami.


Penggalian fosil sendiri baru dilakukan seperempat abad kemudian, tepatnya pada tahun 1954. Hingga tahun 2003, total fosil Ichthyosaur yang berhasil ditemukan berjumlah empat puluh fosil. Jumlah fosil Ichthyosaur terbesar yang pernah ditemukan manusia. 

Apakah kamu tertarik traveling ke kota hantu ini?


Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar travel dan ragam atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar: Wikimedia

Kenapa Orang Suka Makan Pedas? Begini Penjelasan Ilmiahnya

ilustrasi perempuan yang suka makan cabai


raSains.com - Apa hal pertama yang kamu pikirkan ketika mendengar kata cabai? Rasa pedas! Ya, cabai adalah sayuran yang bertanggung jawab akan rasa pedas. Biasanya cabai digunakan sebagai bumbu masak, meski acapkali disajikan dalam bentuk sambal.

Rasa pedas memang bikin nafsu makan menggelegak. Namun tahukah kamu dari mana asal rasa pedas dalam cabai? Dan kenapa kamu dan banyak orang Indonesia bisa jatuh cinta kepada cabai?

Di balik kepedasan cabai

Kuliner korea berbahan kubis dan cabai yang sangat pedas
Sumber gambar: Pixabay

Banyak orang yang percaya jika biji cabai adalah pihak yang bertanggungjawab atas rasa pedas. Oleh karena itu, membuang biji cabai akan mengurangi kepedasannya. Padahal ini hanyalah sebuah mitos.

Kepedasan cabai tidak berasal dari bijinya, melainkan senyawa bernama capsaicin. Capsaicin merupakan senyawa aktif yang terdapat dalam cabai. Kandungan ini berguna untuk menangkal jamur dan patogen. Sedangkan jika dikonsumsi mamalia, bakal menimbulkan sensasi terbakar.

Berdasarkan sejarah, capsaicin pertama kali diekstrak oleh Christian Friedrich Bucholz pada tahun 1816, dan dinyatakan menyebabkan sensasi terbakar ketika bersentuhan dengan selaput lendir oleh ahli farmakologi Jerman Rudolf Buchheim dan dokter Hungaria Endre Hőgyes pada tahun 1870’an.

Menariknya, kadar kandungan capsaicin berbeda-beda, tergantung dari jenis cabai itu sendiri. Untuk mengukur kadar zat capsaicin dalam cabai digunakan tes khusus. Tes ini pertama kali diperkenalkan oleh Wilbur Scoville pada tahun 1912 dengan nama tes Organoleptic Scoville.

Pendekatan Wilbur cukup sederhana, yakni dengan mencampurkan ekstrak capsaicin dengan gula. Campuran ini lalu diuji oleh panel yang terdiri atas lima orang untuk dinilai, apakah rasa pedasnya masih terasa atau tidak.

Dari tes inilah lahir satuan untuk mengukur pedas yang dikenal sebagai satuan Schoville (SHU). Namun seiring perkembangan teknologi, pengujian menggunakan panel tidak lagi dilakukan karena dianggap ‘subyektif’. Sebagai gantinya, para ilmuwan menggunakan analit.

Sampai saat ini, rekor skala Schoville tertinggi masih dipegang oleh cabai Trinidad Scorpion Butch T dengan level kepedasan mencapai 1.463.700 SHU. Tingkat kepedasan cabai ini hampir dua kali lipat dari cabai Naga Viper atau Bhut jolokia yang dianugerahi Guinness World Records sebagai cabai terpedas di dunia. Di mana skala kepedasan cabai Naga Viper mencapai 800.000 SHU.

Sementara itu, level kepedasan cabai rawit (cayenne pepper) yang biasa orang Indonesia konsumsi hanya berkisar 30.000-50.000 SHU. Dengan kata lain, satu buah cabai Trinidad Scorpion Butch T sebanding dengan empat puluh kali lipat kepedasan cabai rawit.

Hingga kini belum ada laporan mengenai efek negatif dari mengonsumsi cabai Trinidad. Namun beda halnya dengan cabai Naga Viper. Di mana pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak empat puluh siswa Milton-Union Middle School jatuh sakit akibat banyak orang dilaporkan jatuh sakit setelah mengonsumsi ‘mantan’ cabai terpedas di dunia tersebut.

Bisa kamu bayangkan, apa jadinya jika siswa-siwa tersebut mengonsumsi cabai super pedas Trinidad yang memiliki kandungan capsaicin hampir dua kali lipat dari cabai Naga Viper?

Pedas itu bukan sekedar rasa

foto close up wanita yang sedang makan siang
Sumber gambar: Pixabay

Kita telah berbicara panjang lebar mengenai asal rasa pedas dalam cabai. Tapi apa sebenarnya pedas itu? Jika kamu mengira rasa pedas itu sama dengan rasa manis, asam, atau asin, maka kamu salah besar. Karena pedas sebetulnya bukan sebuah rasa!

Rasa pedas adalah sensasi terbakar yang dihasilkan capsicain. Sementara rasa manis dan rasa lainnya timbul dari reseptor di lidah, langit-langit mulut, dan belakang tenggorokan ketika bersentuhan dengan makanan.

Pemahaman mengenai apa itu rasa pedas berangkat dari keberhasilan ahli farmakologi David Julius dan timnya dari University of Californa yang menemukan reseptor capsaicin pada tahun 1997. Proses penemuan ini memakan waktu yang panjang.

Pada mulanya mereka mencoba mengetes setiap gen aktif dalam sensor saraf yang mungkin mampu merespon capsaicin. Namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya para peneliti menemukan gen TRPV1 (trip-vee-one).

Gen ini dapat ditemukan di balik lapisan kulit manusia. Fungsinya untuk memperingatkan manusia akan benda berbahaya yang dapat merusak jaringan serta merasakan perubahan suhu, misalnya makanan yang sangat panas.

Khusus untuk capsaicin, tidak semua gen TRPV1 dapat merespon dengan baik. Hanya gen yang ada di lapisan kulit yang lebih tipis, contohnya di sekitar mulut dan mata, yang mampu memberikan respin yang bagus.

Hasil penelitian ini menunjukan jika sensasi terbakar yang kamu rasakan ketika makan cabai merupakan kenyataan yang sebenarnya. Artinya mulut kamu memang benar-benar terbakar! Menariknya, TRPV1 juga mampu merespon sensasi pedas dari makanan lain, seperti lada, wasabi, lobak, hingga bawang putih.

Sedangkan cara paling efektif untuk meredakan pedas yaitu dengan mengonsumsi sesuatu yang mengandung banyak lemak, seperti susu dan yogurt. Bukan minum air putih sebanyak-banyaknya yang lumrah dilakukan sewaktu kepedasan.

Hal ini dikarenakan capsaicin memiliki sifat hidrofobik. Di mana senyawa jenis ini tidak bisa larut oleh air. “Sesuatu dengan banyak lemak akan melarutkan senyawa itu (capsaicin),” kata Mark Peacock, ilmuwan dari Univerisity of Sydney, seperti dikutip dari Australian Geographic.

Tergila-gila rasa pedas

cabai ditusuk dengan garpu
Sumber gambar: Pixabay

Kenapa banyak orang suka makanan pedas dan sambal? Beberapa daftar jawaban yang mungkin terbesit yaitu karena bikin enak masakan, rasanya ada yang kurang kalau makan tidak ditemani sambal, atau jawaban andalan setiap orang: tidak tahu.

Kecintaan manusia akan rasa pedas memang misterius. Namun tabir ini berhasil dibuka oleh Paul Rozin, psikolog dan perintis penelitian mengenai cabai. Menurutnya alasan di balik manusia jatuh cinta dengan rasa pedas yaitu karena mereka suka menyiksa dirinya.

Rozin mengungkapkan jika fenomena aneh ini merupakan bentuk dari ‘masokisme jinak’. Menurutnya rasa sakit adalah peringatan bagi tubuh. Bahwa apa yang ada di depannya dapat membahayakan diri kamu.

Misalnya saja ketika kamu makan makanan yang sangat panas, alarm tubuh kamu akan berdering, dan memaksa kamu menjauhi makanan tersebut untuk sementara waktu. Setidaknya menunggu makanan tersebut menjadi lebih dingin. Karena tidak ada satupun orang yang ingin mulutnya terbakar dan terluka.

Namun rasa pedas adalah hal yang berbeda. Rasa pedas mampu menipu otak kamu. Menyalakan alarm palsu bahwa kamu tengah menghadapi bahaya. Dengan kata lain mengonsumsi makanan pedas berarti menikmati sensasi bahaya tanpa resiko. Layaknya orang yang menaiki wahana roller coster untuk memompa adrenalin.

Apakah orang yang tidak menyukai rasa pedas mengalami sensasi bahaya yang sama? Jawabannya ya. Menurut Rozin tidak ada perbedaan sensasi di antara penyuka pedas dan pembenci pedas.

“Jika reseptor oral mengirimkan sinyal yang sama ke otak, seharusnya penyuka pedas juga mendapatkan sensasi yang sama dengan orang yang tidak suka pedas,” katanya, seperti diukutip dari Scientific America.

Dalam wawancaranya dengan NPR, Rozin menjelaskan lebih lanjut mengenai proses seseorang bisa menyukai rasa pedas. Menurutnya kesukaan ini tidak bisa dilepaskan dari faktor budaya. Di mana dalam kultur masyarakat yang gemar pedas, setiap orang akan ‘terpapar’ cabai dalam takaran yang tinggi sejak mereka kecil.

Paparan ini mengubah ketidaknyamanan akibat rasa pedas menjadi preferensi. Tentunya dalam waktu yang tidak singkat. Perubahan kondisi semacam ini disebut sebagai hedonic reversal. Kondisi pembalikan ini juga dapat ditemui pada hal lain, misalnya kopi dan rokok, yang tidak disukai anak kecil.

“Ibarat merokok. Ketika pertama kali merokok, itu begitu mengerikan. Tapi kamu terus melakukannya karena adanya tekanan sosial. Dari sini kamu memiliki pengalaman dan entah bagaimana berkat pengalaman tersebut semuanya terbalik,” kata Rozin.

Ilmuwan asal University of Pennsylvania itu juga menegaskan jika manusia adalah satu-satunya mamalia yang melakukan hal ini. "Kita adalah satu-satunya spesies, sejauh yang saya tahu, yang melakukan sesuatu untuk mencari kejadian negatif," kata Rozin.

Menariknya, kecintaan seseorang akan pedas juga berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Penelitian yang dilakukan Profesor John Hayes dan Nadia Byrnes dari University of Pennsylvania, berhasil menemukan jika orang yang suka pedas memiliki kepribadian yang suka mencari tantangan dibanding mereka yang tidak suka makan pedas.

Hayes dan Byrnes juga melakukan penelitian lanjutan mengenai kepribadian orang yang suka pedas setelah ilmuwan dari SUNY Stony Brook menemukan korelasi antara kepribadian penyuka cabai yang suka mencari tantangan dengan Zuckerman's Sensation Seeking Scale (skala psikologi yang digunakan untuk mengukur kepribadian yang suka mencari tantangan).

Studi lanjutan ini melibatkan 97 relawan dengan pertanyaan yang diajukan tidak bias gender. Mereka juga menggunakan skala empat poin untuk penilaiannya agar bisa mendapatkan gambaran yang lebih spesifik dibanding jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’.

Setelah mengikuti serangkaian tes, para relawan diminta untuk mengisi kuisioner kepribadian secara online. Hasilnya pencari tantangan muncul sebagai prediktor paling kuat. Lebih kuat dibanding penelitian Hayes sebelumnya. Dalam studi  ini ia belum berhasil menemukan dengan tepat apa penyebab para pencari tantangan suka makan pedas.

Dalam penelitiannya yang lain, Hayes membagi keperibadian menjadi dua, yakni pencari tantangan dan penyuka hal baru. Pembagian ini bertujuan untuk memudahkan peneliti untuk mengungkap penyebab kepribadian pencari tantangan yang menyukai pedas.

Menurut Hayes, kesukaan akan cabai dan makanan pedas tidak bisa dilepaskan dari masa kecil seseorang. “Paparan dalam masa kanak-kanak memainkan peran yang penting dalam menyukai rasa pedas,” katanya.

“Namun ada juga individu yang memperoleh preferensi makanan baru, seperti orang dewasa, begitu mereka pergi dari rumah. Rasanya masuk akal bahwa perbedaan kepribadian mungkin merupakan faktor dalam eksplorasi dan pembelajaran semacam ini," pungkasnya.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar makanan dan minumandan ragam atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar sampul: Pixabay

11 Hoax Seputar Anjing yang Banyak Dipercayai Orang

ekspresi anjing lucu dengan background berwarna hitam


raSains.com Apa jadinya jika sebagian besar fakta seputar anjing yang selama ini kamu percayai ternyata adalah hoax? Jelas banyak orang yang akan terkejut. Apalagi sebagian besar di antaranya telah menjadi ‘kepercayaan umum’.

Misalnya saja mengenai anjing yang hanya bisa melihat warna hitam dan putih, hingga kepercayaan mengenai anjing yang suka dipeluk oleh manusia. Sayangnya hal-hal tersebut hanyalah mitos belaka alias hoax. 

Sejumlah riset dan para ahli berhasil membongkar kumpulan hoax tersebut. Setidaknya sampai saat ini sebelas fakta hoax seputar anjing yang berhasil dikuak. Apa saja itu?

1. Anjing itu buta warna 

foto anjing dari depan dengan background putih
Sumber gambar: Pexels

Fakta nomor satu yang paling banyak dipercaya orang: anjing itu buta warna. Mereka hanya bisa melihat dunia dalam warna hitam dan putih, seperti televisi kuno. Banyak film yang memuat hal ini, misalnya Cat vs Dog, meski fakta ini ternyata keliru.

Memang kemampuan mata anjing lebih terbatas melihat warna dibanding manusia. Namun tidak berarti mereka hanya bisa melihat ‘dunia hitam dan putih’. Pasalnya para anjing juga dapat melihat spektrum warna kuning, biru, dan violet.

Penyebabnya karena mata anjing dan manusia sama-sama memiliki dua jenis fotoreseptor dalam kornea mereka. Secara sederhana, fotoreseptor merupakan sel saraf retina yang berfungsi untuk merespon rangsangan cahaya. Ada dua jenis fotoreseptor, yaitu sel batang yang digunakan ketika cahaya rendah, dan sel kerucut yang merespon cahaya terang dan warna.

Hanya saja sel batang anjing lebih banyak, sehingga memudahkan mereka melihat dalam malam hari. Sebaliknya mata manusia mengalami fovea (depresi mata ringan pada kornea) yang membuat kita bisa melihat visual dengan detail dan tajam, namun ketajamannya begitu kurang dalam cahaya yang minim.

2. Mengibaskan ekor adalah tanda bahagia

Foto anjing yang sedang berlari dengan bahagia di tepi pantai
Sumber gambar: Pexels

Benarkah mengibaskan ekor adalah tanda anjing sedang berbahagia? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Pasalnya ada banyak makna yang tersimpan di balik kibasan ekor anjing. Karena itu kamu harus benar-benar jeli dalam memperhatikan bahasa tubuh mereka.

Misalnya saja ketika anjing kamu mengibaskan ekor dalam posisi berdiri tegak. Itu berarti anjing kamu sedang mewaspadai sesuatu. Sebaliknya jika anjing kamu terlihat rileks sambil menggoyangkan ekor, bisa jadi ia tengah merasa senang.

Untungnya, bahasa ini tidak sepenuhnya mutlak. Artinya meski anjing kamu diam dan tidak menggoyangkan ekornya, bisa saja ia sedang merasa senang.

3. Makin besar ukuran tubuh, makin panjang umurnya

Foto anak anjing lucu di dalam cangkir polkadot
Sumber gambar: Pexels

Sekilas fakta ini memang benar. Mamalia yang berukuran lebih besar memiliki umur yang jauh lebih panjang dibanding mereka yang bertubuh kecil. Alasan ilmiah di baliknya ialah penggunaan energi yang lebih efisien.

Di mana sel tubuh mamalia berukuran besar bergerak lebih lambat, sehingga mampu bertahan lebih lama. Sebaliknya sel tubuh mamalia bertubuh kecil lebih cepat mati karena gerakannya yang lebih cepat.

Sebagai perbandingan, mamalia terkecil di dunia, kelelawar bumblebee, hanya mampu bertahan hidup lima hingga sepuluh tahun. Bandingkan dengan mamalia berukuran besar yang bisa berumur sampai sembilan puluh tahun.

Sayangnya, hal ini tidak berlaku pada anjing. Aneh tapi nyata. Makin kecil ukuran anjing, makin panjang umur mereka. Di mana ras anjing kecil mampu hidup hingga usia dua belas sampai empat belas tahun, dan ras anjing besar hanya mampu bertahan hingga umur lima sampai delapan tahun. Lho kok bisa?

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di jurnal The American Naturalist, penyebab keanehan ini dikarenakan anjing berukuran besar mengalami penuaan dini. Penelitian ini melibatkan 74 ras anjing dan lima puluh ribu ekor anjing, termasuk kapan dan bagaimana mereka mati.

Sedangkan penelitian lain yang dirilis di NCBI mengungkapkan fakta mengenai kerentanan anjing besar terhadap berbagai macam penyakit dan masalah kesehatan lain. Selain itu, ada kemungkinan hal ini disebabkan karena kemunculan ras anjing baru yang dilakukan oleh manusia, bukan karena seleksi alam.

4. Menghitung umur anjing dengan perhitungan umur manusia

bayi lucu memberikan hadiah kepada anjing peliharaannya
Credit: Sebastien Garnier

Bagaimana cara menghitung umur anjing yang tepat? Jawaban pertanyaan ini gampang-gampang susah. Mengingat pertumbuhan anjing pada dua tahun pertama berlangsung sangat cepat, dan selanjutnya melambat.

Sejumlah dokter hewan menggunakan hitungan khusus. Di mana pada tahun pertama, usia anjing dihitung 12 tahun. Jadi ketika menginjak tahun kedua, usia anjing kamu sama seperti manusia yang berumur 24 tahun. Setelah anjing memasuki usia ketiga dan seterusnya, cukup ditambahkan 4 tahun.

Sayangnya perhitungan di atas masih kurang tepat. Pasalnya setiap ras anjing memiliki kecepatan pertumbuhan yang berbeda. Berdasarkan data dari Priceonomics, pada tahun pertama usia para anjing berkisar 14 hingga 15 tahun, dan secara bertahap melambat hingga tahun keempat.

Setelah memasuki tahun kelima, ras anjing sedang hingga kecil cukup ditambahkan empat hingga lima tahun. Sedangkan ras anjing besar tujuh hingga delapan tahun.


5. Anjing tidak bisa menonton TV

foto hitam putih anjing yang berdiri di atas televisi di tepi pantai
Credit: Dan Masa

Hoax yang kelima adalah anjing tidak bisa menonton televisi. Karena para anjing sebetulnya menikmati televisi dengan cara mereka sendiri. David Williams, ahli mata Cambridge Vet School, menjelaskan bagaimana cara kerja mata ketika melihat film atau televisi.

“Ketika kita melihat televisi atau film di bioskop, kita melihat aliran gambar. Terlihat ‘mengalir’ karena mata kita tidak memperhatikan perubahan dari satu gambar ke gambar berikutnya,” kata David seperti dikutip dari The Naked Scientists.

Ia juga menambahkan jika televisi dan film kuno hanya mampu menghasilkan 24 frame perdetik. Frame sekecil itu terlihat mengalir karena manusia memiliki ‘frekuensi fusi kedipan’ sekitar enam belas ampai dua puluh frame per detik. Sementara frekuensi anjing jauh lebih tinggi.

“Mungkin 40 sampai 80 frame per detik,” kata David.

Oleh karena itu, anjing hanya dapat melihat ‘patahan gambar’ yang ditampilkan televisi tabung. Lalu bagaimana dengan televisi modern? Tingginya jumlah frame yang ditampilkan televisi plasma menjamin anjing dapat menikmati film. Apalagi terdapat sejumlah bukti mengenai reaksi anjing terhadap gambar di televisi plasma. 

5. Hidung basah adalah tanda anjing yang sehat

foto ekspresi anjing yang bahagia tampak muka
Sumber gambar: Pexels

Banyak yang berpikir jika hidung anjing yang basah adalah tanda dia sehat, dan jika kering dan hangat pertanda jika sakit. Pasalnya suhu hidung anjing berubah-ubah setiap waktu, bisa disebabkan lingkungan atau hal lainnya. Di sisi lain seekor anjing bisa sangat sehat dan memiliki hidung yang kering dan hangat.

Menurut Steven Mark, profesor perawatan kritis dan pengobatan dalam dari North Caroline State University, keringnya hidung bisa disebabkan karena dehidrasi.

“Pada anjing yang tengah mengalami dehidrasi, ya, hidung mungkin kering,” katanya. “Tapi anjing bisa memiliki hidung lembab karena mereka sehat, dan mereka memiliki bindeng ketika hidung mereka sakit, ini bukan tanda yangbisa diandalkan.

6. Anjing suka dipeluk 

Foto anak kecil memeluk anjing peliharannya di taman
Credit: Donnie Ray Jones

Banyak pecinta anjing yang termakan hoax ini. Bisa jadi kamu salah satu di antaranya. Bagi manusia, tindakan memeluk sesuatu merupakan representasi dari emosi cinta. Jika kamu suka sesuatu, pasti kamu suka memeluknya.

Hal inilah yang mendasari pikiran kita mengenai anjing suka dipeluk. Apalagi para anjing pun terlihat senang diperlakukan seperti ini. Sayangnya ini adalah pemahaman yang salah kaprah.

Berdasarkan data yang dimuat di Psychology Today, anjing ternyata tidak suka dipeluk. Ini dikarenakan anjing adalah binatang cursorial (didesain untuk berlari). Artinya ketika anjing merasa terancam atau stres, langkah pertama yang bakal mereka lakukan yaitu kabur.

Ketika kamu memeluk anjing, kamu secara tidak langsung telah merampas sifat alami mereka. Stanley Coren, Ph.D., FRSC, profesor psikologi di University British of Colombia, menuliskan analisa sejumlah foto anjing yang sedang dipeluk.

Berdasarkan analisanya, sejumlah tanda kecemasan terlihat pada anjing-anjing tersebut. Beberapa di antaranya yaitu mengalihkan pandangan dari apa yang mengganggunya, telinga turun, hingga menjilat bibir.

7. Anjing besar lebih agresif dibanding anjing kecil

foto anjing hitam sedang menyalak galak
Sumber gambar: Pexels

Anjing besar atau kecil, manakah yang paling agresif? Kebanyakan dari kita akan menjawab anjing besar. Ya, asosiasi kegalakan anjing memang lekat dengan ukurannya. Padahal kepercayaan ini hanyalah mitos.

Ukuran tidak menentukan tingkat keagresifan seekor anjing. Malahan anjing yang lebih kecil jauh lebih galak. Priyanka Habib, salah satu pembaca BBC, mengamini hal ini. “Makin kecil mereka, makin berisik dan gila,” katanya.

Daniel Mills, ahli perilaku anjing dari Lincoln University, mencoba menjelaskan fenomena ini. Menurutnnya kebanyakan orang mungkin memaksakan perilaku tertentu yang menggangu perilaku para anjing berukuran mungil, misalnya saja dengan membawa-bawa anjing dalam tas anjing.

Selain itu, banyak orang yang tidak sadar akan bahasa tubuh anjing berukuran kecil. "Ketika berinteraksi dengan anjing kecil, kita mungkin kurang menyadari tanda-tanda awal agresi seperti menatap, sedangkan jika seekor anjing besar terus menatap, kita akan berpikir 'saya tidak akan mendekatinya'," kata Mills.

8. Kita tidak bisa mengajari trik baru kepada anjing yang tua

Foto anjing tua yang kelelahan
Credit: United Light Studios

Anjing tua tidak bisa belajar trik baru? Tunggu dulu, kata siapa mereka tidak bisa? Pada dasarnya anjing muda dan tua sama-sama mampu belajar trik baru. Hanya saja anjing tua membutuhkan waktu sedikit lebih lama.

Alasannya karena perubahan sensorik. Di mana anjing yang lebih tua tidak segesit dulu plus kemampuan penglihatan dan pendengaran mereka telah menurun. Namun tidak berarti mereka tidak bisa belajar trik baru. Kamu hanya membutuhkan metode yang tepat untuk melatih mereka saja.

Pertama, pastikan kamu mendapatkan perhatian mereka. Kamu bisa memanfaatkan mainan atau makanan favorit mereka sebagai daya tarik latihan. Langkah kedua yaitu memastikan aktivitas yang akan dijalani tidak terlalu menuntut fisik.

Terakhir, pastikan anjing peliharaan kamu tidak mengalami disfungsi kognitif (kepikunan). Pasalnya disfungsi ini membuat anjing kamu tidak bisa mempertahankan informasu baru dengan baik. Akibatnya mereka susah belajar trik baru. Dengan kata lain, kamu bisa mengajari anjing tua namun tidak bagi yang pikun.

10. Anjing makan rumput saat mereka sakit

Anak anjing berebut makanan di antara rerumputan
Credit: Stephen Kruso

Bagi kamu yang memelihara anjing, pasti tidak heran dengan perilaku anjing yang kadang-kadang memakan rumput. Mereka akan terus melakukan itu hingga muntah. Karena itu banyak yang mengira jika anjing makan rumput adalah pertanda jika ia sedang sakit.

Padahal ada banyak alasan para anjing melakukan hal itu, dan sakit tidak termasuk di antaranya. Pasalnya menurut sejumlah ahli, kurang dari sepuluh persen anjing yang makan rumput jatuh sakit. Hal ini membuktikan jika fakta mengenai anjing makan rumput saat sakit adalah hoax.

Alasan anjing makan rumput juga dapat disebabkan kondisi yang disebut pica. Kondisi ini memaksa hewan untuk mengonsumsi sesuatu  yang mengandung nutrisi dan mineral. Pica juga bisa disebabkan kebosanan. Sedangkan alasan lainnya yaitu faktor teritorial, dan sekedar ingin mencoba rasa rumput.

11. Makan bacon tidak masalah

Foto bacon khas Amerika Serikat yang ternyata berbahaya bagi anjing
Credit: cyclonebill

Sudah menjadi rahasia umum bahwa anjing tidak boleh diberi cokelat. Tapi hanya sedikt orang yang tahu bahwa banyak produk makanan manusia lainnya yang berbahaya bagi anjing, misalnya bacon. Kamu mungkin mengira jika bacon yang terbuat dari daging aman untuk anjing.

Sayangnya hal ini tidaklah benar. Kandungan lemak yang tinggi pada bacon dapat berakibat buruk bagi kesehatan anjing, seperti radang pakreas yang dikenal juga sebagai pankreatitis. Padahal pankreas memegang peran penting dalam memastikan tubuh menyerap dan mencerna makanan. Jika organ ini terganggu, maka proses pencernaan makanan bakal bermasalah.

Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar flora dan faunadan alam semesta atau artikel lain dari raSains.

Sumber gambar: Pexels